Bukalah Ruang Agar Siswa Kritis dalam Pembelajaran

EQUILIBRIUM NEWS – Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Kurikulum 2013 telah mewajibkan para guru untuk mengajarkan dan merangsang siswa dalam berpikir kritis melalui beragam metode dan evaluasi yang menggunakan pertanyaan tingkat tinggi. Critical thinking (berpikir kritis) merupakan bagian dari menalar. Berpikir logis dan rasional termasuk berpikir dasar, sedangkan berpikir kritis, berpikir kreatif, mengambil keputusan termasuk berpikir kompleks. Berpikir kritis berkaitan dengan kemampuan mengidentifikasi, menganalisis dan memecahkan masalah secara kreatif dan berpikir logis sehingga menghasilkan pertimbangan dan keputusan yang tepat.

Berpikir kritis ditafsirkan dengan beragam kalimat dalam berbagai sudut pandang oleh banyak ahli. Krulik dan Rudnik (1993) menyampakan bahwa berpikir kritis sebagai perilaku berpikir yang menguji, menghubungkan dan mengevaluasi semua aspek dari situasi masalah. Termasuk dalam berpikir kritis adalah kemampuan mengelompokkan, mengorganisasikan, mengingat dan menganalisis informasi. Berpikir kritis memuat kemampuan membaca dengan pemahaman dan mengidentifikasi materi yang diperlukan dengan yang tidak ada hubungan. Hal ini juga berarti dapat menggambarkan kesimpulan dengan sempurna dari data yang diberikan, dapat menentukan ketidakkonsistenan dan kontradiksi dalam sekelompok data. Berpikir kritis adalah analitis dan refleksif.

Critical thinking diusahakan dengan sengaja secara aktif, sistematis, mengikuti prinsip logika dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang untuk mengerti dan mengevaluasi informasi dengan tujuan apakah informasi diterima, ditolak atau ditangguhkan penilaiannya (Takwin, 1997). Frase ini juga berhubungan dengan kemampuan yang dimiliki individu untuk melihat dan memecahkan masalah yang ditandai dengan sifat dan bakat kritis yaitu mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, imajinatif dan selalu tertantang oleh kemajemukan, berani mengambil resiko dan survive dengan menghargai hak orang lain, arahan bahkan bimbingan orang lain.

Dalam dunia pendidikan, keterampilan berpikir kritis sangat penting bagi siswa. Dengan keterampilan ini siswa mampu bersikap rasional dan memilih alternatif pilihan yang terbaik. Siswa akan senantiasa bertanya pada diri sendiri dalam menghadapi persoalannya untuk menentukan yang terbaik. Siswa dengan keterampilan berpikir kritis akan terpatri dalam watak dan kepribadiannya dan terimplementasi dalam segala aspek kehidupannya. Dengan demikian pemberdayaan keterampilan critical thinking pada siswa sangat mendesak dilakukan, dapat dilakukan secara terintegrasi melalui metode pembelajaran.

Karakteristik utama dari berpikir kritis adalah menjawab pertanyaan, merumuskan masalah, meneliti fakta, menganalisis asumsi dan kesalahan, menghindari alasan yang emosional, menghindari penyederhanaan yang berlebihan, memikirkan interpretasi lain dan mentoleransi arti ganda. Kemampuan berpikir terutama kemampuan berpikir kritis dan kreatif sangat diperlukan dalam mengajarkan pemecahan masalah pada siswa, karena salah satu indikasi adanya transfer belajar adalah kemampuan menggunakan informasi dan keterampilan dalam memecahkan masalah. Melalui pemecahan masalah siswa dilatih berpikir kritis melalui latihan. Kesulitan yang umumnya ditemukan pada siswa dalam memecahkan masalah adalah memperjelas masalah atau merumuskan masalah yang akan dipecahkan.

Dari gambraan tersebut, dapat diperhatikan ciri penting siswa yang memiliki watak critical thinking adalah (1) mencari pernyataan atau pertanyaan yang jelas artinya atau maksudnya; (2) mencari dasar atas suatu pernyataan; (3) berusaha memperoleh informasi terkini; (4) menggunakan dan menyebutkan sumber kredibel; (5) mempertimbangkan situasi menyeluruh; (6) berusaha relevan dengan pokok pembicaraan; (7) berusaha mengingat pertimbangan awal atau dasar; (8) mencari alternatif; (9) terbuka; (10) mengambil posisi (atau mengubah posisi) berdasarkan bukti dan dasar yang cukup; (11) mencari ketepatan; (12) berurusan dengan bagian secara berurutan hingga mencapai seluruh keseluruhan yang kompleks; (13) menggunakan kemampuan atau keterampilan kritisnya sendiri; (14) peka terhadap perasaan, tingkat pengetahuan dan tingkat kerumitan berpikir orang lain dan (15) menggunakan kemampuan berpikir kritis orang lain.

Selain bermanfaat dalam pembelajaran, kemampuan critical thinking juga mempunyai peranan sebagai bekal siswa menghadapi masa depan. Piaget menyampaikan bahwa perkembangan kemampuan penalaran formal sangat penting bagi penguasaan konsep, karena pengetahuan konseptual merupakan akibat atau hasil proses konstruktif dan kemampuan penalaran tersebut adalah alat yang diperlukan pada proses itu. Kemampuan penalaran formal merupakan kemampuan berpikir kritis yang akan bermuara pada hasil belajar. Banyak penelitian telah menjadi bukti bahwa kemampuan berpikir kritis mempunyai manfaat yang konkrit dalam meningkatkan hasil belajar siswa (Norland dan De Vito/2007, Hasrudin/2004, Hadi/2007 dan Setiawan/2005). Latihan untuk meningkatkan kemampuan critical thinking siswa dapat dengan mengikuti tahapan berikut ini (1) menentukan masalah atau isu nyata, proyek atau keputusan yang betul-betul dipertimbangkan untuk dikritisi; (2) menentukan poin yang menjadi pandangan; (3) memberikan alasan mengapa poin itu dipertimbangkan untuk dikritisi; (4) membuat asumsi yang diperlukan; (5) mrenggunakan bahasa yang jelas; (6) membuat alasan yang mendasari dalam fakta yang meyakinkan; (7) mengajukan kesimpulan dan (8) menentukan implikasi dari kesimpulan tersebut.

Senada dengan cara di atas untuk menumbuhkan keterampilan berpikir kritis dalam pembelajaran, Brown dan Campione (1996) menciptakan program Fostering Community of Learners (FCL) yang ditujukan untuk menumbuhkan keterampilan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran. FCL merupakan program inovatif untuk menumbuhkan keterampilan berpikir kritis bagi anak usia 6 – 12 tahun melalui proses pembelajaran di kelas. Ada lima strategi utama yang digunakan untuk menumbuhkan keterampilan berpikir kritis yaitu diskusi dan konsultasi, peer teaching, modelling, latihan terbimbing dan latihan bebas. Untuk itu siswa dapat dihadapkan pada topik atau tema kontroversial, dekat dengan dunia mereka dan memberikan peluang kepada siswa untuk berpikir. Agar lebih maksimal, guru sebaiknya menggunakan metode diskusi dan debat, dengan memberi ruang dan support agar siswa bertanya. Metode ini dapat memotivasi siswa untuk meneliti suatu tema tertentu yang sedang dipelajari secara mendalam dan menguji masalah masalah. Guru diharapkan dapat menahan diri untuk tidak menyatakan pandangannya sendiri sehingga siswa merasa bebas untuk mengeksplorasi perspektif yang beragam. Sedangkan bertanya merupakan bagian inti dari belajar dan menemukan pengetahuan. Rasa ingin tahu siswa adalah modal awal yang sangat berharga dalam upaya tumbuh kembang keterampilan berpikir kritis, sehingga dalam pembelajaran guru tidak hanya menyampaikan informasi begitu saja tetapi memancing siswa untuk bertanya dengan berbagai metode, selanjutnya mengarahkan siswa untuk menemukan jawabannya sendiri. Semoga….

Tulisan oleh Dr. Siti Sanisah, M.Pd.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *