Dekapan Indah Kausalitas

Ada suatu masa dulu, ketika iblis terusir dari lingkungan surga karena angkuhnya. Ia menafikan perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam AS karena merasa diri lebih tua dan mulia. Menyombongkan asal kejadiannya yang dari api, sementara Adam dari tanah. Saat itu, “mungkin” iblis sedang lupa-khilaf bahwa desainernya sama, Allah Taala.

Tentu sudah memiliki dasar kuat kenapa manusia harus diciptakan dari tanah, iblis dari api dan malaikat dari nur. Sikap angkuh yang ditunjukkan iblis dengan mengingkari perintah Tuhan membawa konsekuensi tersendiri, terusir dari surga. Meski kemudian dia diberi keleluasaan untuk menggoda umat manusia hingga menjelang hari akhir.

Masih ingatkah juga kita tentang kisah Kaum Sodom. Sebagian dari mereka begitu berbangga hati ketika melihat Nabi Luth kedatangan tamu dan mereka berniat untuk “memilikinya.” Kata “mereka” yang saya maksud dalam paragraf ini adalah mereka yang memiliki “kebiasaan menyimpang” pada saat itu. Meski sudah diperingati dengan sekian banyak cara dan upaya, tetap saja ngotot dengan kebiasaannya. Mereka digambarkan Al Qur’an dalam Surat Al Hijr Ayat 72 sebagai umat yang terombang ambing dalam kemabukan demi melampiaskan hawa nafsunya (sebagai penyuka sesama jenis). لَعَمْرُكَ اِنَّهُمْ لَفِيْ سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُوْنَ (Allah berfirman,) “Demi umurmu (Nabi Muhammad), sungguh, mereka terombang-ambing dalam kemabukan (demi melampiaskan hawa nafsu).” (QS 15 : 72) Sehingga konsekuensinya mereka ditimpa azab sebagaimana disampaikan pada ayat berikutnya, yang artinya “Maka, mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur ketika matahari terbit…Maka, Kami menjungkirbalikkan (negeri itu) dan Kami menghujani mereka dengan tanah yang membatu (QS 15 : 73-74).Demikian juga halnya dengan penduduk Aikah (kaum Nabi Syu’aib AS) yang disebut sebagai orang-orang yang zalim. Mereka kemudian dibinasakan sebagaimana azab yang diberikan kepada kaum Sodom. Tidak ketinggalan pula konsekuensi dari kedustaan terhadap rasul diterima oleh penduduk Hijr (kaum Samud, kaum Nabi Saleh, AS). Tempat tinggal yang mereka buat dengan memahat batu di daerah gunung, dibinasakan oleh suara keras mengguntur pada pagi hari sehingga sia-sialah apa yang telah mereka upayakan.

Pada sekian kejadian itu, berlaku hal yang disebut Cause and Effect (sebab-akibat). Dalam pandangan umum, Cause and Effect dipahami dalam kerangka pikir bahwa tidak ada hal yang terjadi karena kebetulan di luar hukum semesta. Setiap aksi (termasuk pemikiran) memiliki reaksi atau konsekuensi. Hukum tabur tuai, kita memetik apa yang kita tanam. Hukum ini pada era Aristoteles, Neo-Platonisme hingga Muslim peripatetik, diyakini pasti, tanpa campur tangan langsung dari Tuhan. Namun, dengan lantang imam al-Ghazali membantahnya (baca : Tahafut al-Falasifah), sebab, dalam kausalitas terdapat kehendak sang Pencipta. Di Barat, pandangan ini disebut dengan Creationism dan tentu banyak ditolak saintis. John F. Haught, misalnya, menganggap kreasionisme memiliki cacat serius. Bahkan, kini di dalam sains modern, terdapat begitu banyak upaya untuk menghilangkan jejak Tuhan di alam semesta.Bisakah semudah itu menghilangkan jejak pencipta pada apa yang diciptakannya? Hampir sama mustahilnya dengan menghitung apa yang sudah diciptakan Allah dan menjadi nikmat buat kita semua. Adakah kita yang dapat menghitung nikmat Allah, hatta kepada diri pribadi sekali pun? Bagaimana Dia mencipta hewan dengan bulu yang dapat menghangatkan dan dagingnya dapat dimakan, serta manfaat lain. Kemudian, Dia juga menurunkan air (hujan) dari langit, yang sebagian menjadi minuman dan sebagiannya lagi menyuburkan tumbuhan yang dengannya dapat dimakan dan menggembalakan ternak. Bukankah Dia juga menundukkan malam dan siang, matahari, bulan dan bintang juga dikendalikan dengan perintah-Nya. Dia juga mengendalikan laut dengan segala isinya agar manusia beroleh manfaat darinya. Memancang gunung dan menggelar sungai. Tidak akan cukup laman fb, setumpuk buku dan usia untuk menuliskan sekian nikmat Allah. Ia menjadi sesuatu yang tak terjumlah (tidak terhingga).Masalahnya adalah semua nikmat yang setiap saat dinikmati, bahkan sampai level sangat tergantung, dianggap sebagai hal yang lumrah. Terbiasa dan menganggap biasa segala nikmat yang diberikan Allah, terlalu asyik menikmati sehingga tidak menganggapnya sebagai suatu hal yang mesti disyukuri. Justru, merusak dengan berbagai dalih. Lantas, ketika berhasil mencapai suatu hal, dianggap itu murni sebagai capaian diri pribadi. Tidak jarang dengan pongah menuntut apresiasi dari lingkungan sekitar. Padahal apalah kita tanpa kuasanya. Dengan fakta penciptaan sebagaimana dalam ayat berikut, lalu apa yang harus disombongkan? خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ نُّطْفَةٍ فَاِذَا هُوَ خَصِيْمٌ مُّبِيْنٌ Dia telah menciptakan manusia dari mani, lalu ternyata dia menjadi pembantah yang nyata (QS 16 : 4).Begitu dalam larut pada hal yang berhasil diciptakan, diraih dan digunakan. Mengingkari adanya Sang Pencipta, memuja diri sendiri dan “tuhan” baru yang berhasil diciptakannya dengan berbagai bentuk dan atribut. Membawa diri pada keadaan ekstasi hingga lupa pada Allah Azza Wajalla. Bahkan, seruan dan panggilan-Nya pun bukan lagi sesuatu yang mampu menggetarkan sukma. Tidak terlalu salah kemudian jika Friedrich Nietzsche menyindir dengan kalimat “tuhan sudah lama mati dan manusialah yang membunuhnya.” Tidak sedikit yang tersinggung, marah dan emosi dengan pernyataan orang yang diklaim atheis ini. Namun, jika mau jujur melihat kondisi diri, seharusnya pernyataan Nietzsche menjadi tamparan keras yang dapat melahirkan luka pedih berdarah, lantas membimbing jiwa untuk sadar diri.Bukankah banyak diantara umat tanpa sadar menyekutukan Tuhan dengan hal lainnya. Lupa pada kewajiban karena larut pada karya, enggan menjawab panggilan-Nya karena sedang asyik berdiskusi dan sekian hal lainnya yang membuat Allah terkesampingkan. Bahkan, ada beberapa yang enggan turut berpuasa karena menghormati mereka yang tidak berpuasa. Ada lagi yang begitu marah ketika mendengar toa masjid kumandangkan azan. Barisan inilah kemudian yang menjadi sebab kenapa jiwa seolah bisa mati, tak merasakan getaran ketika azan berkumandang. Tidak merasa menyesal (bahkan beruntung) ketika berhasil merusak ekosistem dengan berbagai dalih. Tidak merasakan empati sedikit pun terhadap penyintas bencana yang terjadi karena ulah segelintir orang.Dinamika hidup memang tidak akan dapat dipahami dengan kaffah. Selalu ada anasir yang menjadi rahasia dan tersembunyi dari lainnya. Namun, tetap berada dalam garis sebab dan akibat. Allah Subhanahu Wata’ala telah menerangkan mana jalan yang lurus dan menyimpang. Kita bisa memilih memasuki pintu (neraka) jahanam dan kekal di dalamnya yang diperuntukkan bagi mereka yang menyombongkan diri. Atau, pintu kebaikan yang diperuntukkan bagi orang yang bertakwa. Kita tinggal memilih jalannya dan bersiap terhadap semua konsekuensi yang ada. Cepat atau lambat, pasti akan terjadi.

Selamat berbuka puasa bagi yang menjalankan ibadah Shaum Ramadhan. #OneDayOneJuz#HikmahHikmahBertutur#WritingClassWithHas#WritingIsCaring#Day14Cc UstazahMiliani AhmadMeli MustofiahRubiah Lenrang