Etiquette Pendidik PAUD: Perlukah?

Simpang siur dunia pendidikan dengan dilemanya yang semakin kompleks menuntut perhatian lebih. Seorang sahabat yang berprofesi sebagai pendidik di jenjang pendidikan sekolah dasar menyampaikan bahwa tubuh pendidikan kita dewasa ini terluka pada banyak bagian sehingga dari masa ke masa terus melemah. Tak ubah  seperti vicious cycle. Satu luka berdampak pada luka yang lainnya, terlebih jika luka lama tidak disembuhkan total. Ironisnya, “dokter” yang diberi wewenang menyembuhkan luka tersebut tidak serius menangani, mungkin karena tidak memahami dengan baik penyakit yang ada. Sementara “dokter” lain yang memiliki kemampuan tergerus oleh kepentingan. Akibatnya, tubuh pendidikan semakin lemah dan terkapar tanpa daya. Dilematis memang.

Seiring terbukanya akses ke informasi pubik, banyak kasus di dunia pendidikan yang mengemuka. Paling sering adalah kasus yang terkait dengan masalah etika (dari wali murid, kepala sekolah, guru hingga siswa). Kasus ini pun tidak memandang jenjang pendidikan baik dari level pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Artinya, masalah etika sebenarnya tidak mutlak menjadi kewajiban siswa untuk mempelajari dan guru mengajari tetapi menjadi keharusan seluruh civitas dunia pendidikan maupun masyarakat secara umum. Etika adalah keharusan bagi seorang pendidik ketika berada di dalam maupun di luar komunitas pendidikan. Etika adalah modal awal dalam bergaul di lingkungan maupun di luar lingkungan sekolah.

28279920_160154431454288_611614641030828816_nKeprihatinan atas masalah tersebut, telah diupayakan solusinya melalui berbagai cara. Dalam konteks sistem pendidikan telah disahkan berlaku dan dimulainya pendidikan berbasis karakter. Jauh hari sebelumnya dilakukan pendekatan melalui pesantren kilat dan sejumlah kegiatan konstruktif lainnya untuk membangun etika dan akhlak siswa. Lalu bagaimana dengan pendidik/guru? Selain merupakan keharusan, urgensi etika pendidik juga ditetapkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Pada pasal 10 ayat (1) disebutkan bahwa “Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi”. Sangat pentingnya masalah etika ini pada pendidik sehingga ditetapkan pemerintah melalui regulasi dan diupayakan peningkatannya melalui pendidikan profesi.

Dalam regulasi dimaksud kompetensi pendidik yang terkait utuh dengan etika pendidik adalah kompetensi kepribadian. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia. Sub kompetensi dalam kompetensi kepribadian meliputi (1) kepribadian yang mantap dan stabil meliputi bertindak sesuai dengan norma sosial, bangga menjadi guru dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma; (2) kepribadian yang dewasa yaitu menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja sebagai guru; (3) kepribadian yang arif adalah menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemanfaatan peserta didik, sekolah dan masyarakat dan menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak; (4) kepribadian yang berwibawa meliputi memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan memiliki perilaku yang disegani dan (5) berakhlak mulia dan dapat menjadi teladan meliputi bertindak sesuai dengan norma religius (imtaq, jujur, ikhlas, suka menolong) dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.

Di Prancis etika dikenal dengan istilah etiquette yang berarti ticket atau label. Pada masa dahulu etika merupakan secarik kertas dari kerajaan yang bertuliskan cara atau peraturan yang harus ditaati oleh tamu kalau datang ke Istana Raja Louis XIV. Dalam perjalanannya pemahaman etika menjadi semakin luas dan juga dipergunakan dalam berbagai lini, termasuk pendidikan. Etika dalam pendidikan menjadi suatu keharusan untuk semua pihak, tanpa dapat dinegosiasi. Secara umum bentuk etika yang harus dikuasai oleh pendidik, antara lain social etiquette (etika pergaulan), life style etiquette (etika gaya hidup), communication etiquette (etika berkomunikasi), cross culture etiquette (etikan antarbudaya), international etiquette (etika internasional), travelling etiquette (etika perjalanan) dan entertaining etiquette (etika perjamuan).

Menerapkan sekian jenis etika di atas merupakan suatu kewajiban bagi pendidik dari semua jenjang pendidikan termasuk PAUD. Secara sederhana beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membangun etika pendidik PAUD agar menjadi pendidik sejati yang profesional sesuai tuntutan, adalah:

  1. Guru PAUD harus kaya kasih sayang. Seorang pendidik PAUD harus selalu mencerminkan sikap kasih sayang baik dengan sesama secara umum, dengan sesama pendidik, terlebih dengan anak didik;
  2. Senantiasa menunjukkan sikap memberikan penghargaan terhadap sesama. Seorang pendidik PAUD harus selalu mencerminkan sikap saling menghargai;
  3. Pemberian ruang untuk pengembangan diri. Dengan pemberian ruang untuk pengembangan diri, pendidik PAUD akan mencapai prestasi sebagai pendidik PAUD yang benar-benar sesuai kompetensi;
  4. Kepercayaan. Kepercayaan dimaksudkan sebagai kemampuan untuk memberikan kepercayaan dan menerima kepercayaan orang lain, sehinggga melakukan tugas secara maksimal tanpa merasa diawasi;
  5. Kerja sama. Pendidik PAUD harus dapat bekerjasama baik dengan rekan kerja sesama pendidik dan dengan orang tua untuk tujuan yang sama yaitu pengambangan anak usia dini;
  6. Saling berbagi. Pendidik PAUD diharapkan memiliki karakter untuk selalu saling berbagi keterampilan, kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki dengan sesama pendidik;
  7. Saling memotivasi. Pendidik PAUD harus dapat saling memberikan dorongan motivasi untuk lebih maju sehingga bersama-sama menjadi pendidik PAUD yang lebih baik;
  8. Saling mendengarkan. Pendidik PAUD harus memiliki karakter saling mendengarkan, karena pendengar yang baik adalah salah satu ciri pembelajar yang baik;
  9. Saling berinteraksi secara positif. Berinteraksi secara positif merupakan kunci tercapainya keberhasilan sebuah tim. Pendidik tidak dapat bekerja secara individual, sehingga harus melibatkan kerjasama tim;
  10. Saling menanamkan nilai-nilai moral. Dengan saling menanamkan nilai-nilai moral, pendidik akan mampu memberikan contoh/teladan yang baik kepada anak-anak karena guru adalah model bagi anak-anak;
  11. Saling mengingatkan dengan ketulusan hati. Pendidik harus saling mengingatkan dengan ketulusan hati. Dengan saling mengingatkan akan terbentuk karakter tim yang lebih kuat;
  12. Saling menularkan antusiasme. Antusiasme/semangat dalam bekerja adalah hal yang harus dipupuk. Salah satu cara yang paling efektif adalah dengan saling menularkannya pada rekan kerja satu tim sesama pendidik sehinggga akan berpengaruh positif terhadap anak;
  13. Saling menggali potensi diri. Dengan menggali potensi diri, maka potensi yang sebelumnya kurang terasah akan terasah lebih optimal;
  14. Saling mengajari dengan kerendahan hati. Saling mengajari dengan kerendahan hati dimkasudkan untuk saling memberi bimbingan tanpa tujuan saling menggurui. Dengan bimbingan sesama pendidik, pendidik akan memiliki kompetensi yang lebih optimal;
  15. Saling menginspirasi. Sumber inspirasiyang paling berpengaruh terhadap pendidik adalah anak didik dan sesama pendidik, karena keduanya yang berinteraksi langsung dalam proses pembelajaran;
  16. Saling menghormati perbedaan. Menghormati perbedaan adalah kunci untuk dapat saling menerima satu sama lain. Tidak ada orang yang sama,masing-masing memiliki latar belakang, keunikan tersendiri yang dapat saling melengkapi satu sama lain sehingga terbangun tim yang lebih kuat.

Disamping sebagai profesi, pendidik juga memiliki rasa tanggung jawab yang merupakan konsekuensi logis dari sikap prilaku yang ditampilkan dalam menjalankan profesinya. Termsuk dalam bersikap secara secara mandiri sesuai dengan kaidah serta norma yang berlaku yaitu ETIKA. Sebagai pendidik PAUD yang berperan sebagai peletak dasar etika kepada peserta didik sudah seharusnya mengedepankan hal itu dalam pergaulan sehari-hari. Bahkan secara khusus, seorang guru baru dapat dikatakan memenuhi kualifikasi sebaggai guru PAUD jika sudah menyelesaikan tiga jenis pendidikan dan pelatihan yaitu Diklat dasar, lanjut dan menengah. Dalam setiap level diklat tersebut, secara khusus sudah diformat materi diklat tentang Etika dan Karakter Pendidik PAUD. Jadi, marilah bersahabat dan menjadikan etika sebagai kebutuhan dasar kita. Semoga …..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *