Jejak Langkah Sang Penggerak (Jurnal Refleksi Minggu ke 4 PGP)

Aksi Nyata (jurnal Minggu ke 4)

Ragam Warna di Bulan Pertama
(Aksi Nyata Calon Guru Penggerak)

Pendidikan Guru Penggerak (PGP) angkatan 2, sudah berjalan beberapa bulan. Sejak dibukanya pada Lokakarya Perdana 10 April lalu, para peserta menjalaninya dengan penuh cerita beragam. Mulai dari kesulitan membagi waktu, jaringan internet yang kadang tak memihak, sampai pada keluhan akan tagihan pemakaian kuota internet yang membengkak.
Namun demikian, cerita suka tak kalah semarak. Senangnya mendapat kawan baru, indahnya berbagi cerita dengan kawan seprofesi lintas jenjang dari berbagai lembaga lain, sampai sensasi berpacu dengan waktu, mengejar ketertinggalan tugas mandiri yang kadang sempat tersisih karena tugas-tugas lain.

Bagi saya, mendapat kesempatan menjadi bagian dari program hebat ini, adalah Rizki indah yang Allah berikan. Saya merasa sangat beruntung bisa berbagi dengan kawan seprofesi lintas jenjang. Selama ini, kegiatan peningkatan kompetensi biasanya dilaksanakan perjenjang. Namun kali ini dilaksanakan secara masif dan pesertanya bergabung semua jenjang. Dalam hal ini, kami bisa berbagi banyak hal positif dengan rekan sesama kelompok yang terdiri dari guru TK, SD, SMP dan SMA. Banyak pengetahuan dan pengalaman baru inilah, yang menjadikan semangat kami semakin tinggi. Semangat untuk segera mengaplikasikannya dalam bentuk aksi nyata di lembaga kami masing-masing.
Rasa senang dan bangga kami rasakan saat selangkah demi selangkah melakukan aksi nyata. Rasa senang muncul saat kami memulai dengan mendekati kepala sekolah lalu rekan-rekan guru, dalam rangka menyusun perencanaan.
Ada beberapa hal yang kami laksanakan pada tahap perencanaan ini, seperti:
  – Menyamakan persepsi tentang konsep belajar sambil bermain pada setiap tema pembelajaran.
  – Menentukan metode dan strategi serta model penilaian.
  – Pemilihan APE pendukung.
 
Pada tahap penerapan, kami melaksanakannya sesuai dengan yang sudah disepakati pada tahap perencanaan. Meski tidak seratus persen berjalan, tapi kami merasa gembira karena respon positif dari peserta didik dan sebagian kecil orang tua anak yang secara kebetulan mengikuti proses.

“Kegiatan main seperti ini, cukup menarik dan membuat anak-anak terlihat lebih bahagia dari sebelumnya.” Begitu komentar salah seorang orang tua anak.

Kepala sekolah juga memberikan apresiasi dalam menanggapi pelaksanaan pembelajaran dengan konsep belajar melalui permainan ini.
“Saya yakin pembelajaran seperti ini akan berhasil menuntun anak menjadi lebih kreatif, inovatif dan berkarakter.” Begitu kata beliau.

Rasa bangga mendengar komentar positif dari orang tua anak dan juga kepala sekolah, tak membuat kami lupa untuk melakukan refleksi sebagai acuan untuk menentukan langkah selanjutnya.

Dalam hal ini, kami menemukan ide atau gagasan baru. Ide yang timbul saat kami melaksanakan seluruh kegiatan yang di dalamnya ada konsep bermain yang bermakna dan menyenangkan. Ide yang kami maksud adalah:
  – Upaya melibatkan orang tua sebagai pendamping dan juga sumber belajar. Dalam hal ini, kami berencana untuk mengundang orang tua saat diskusi untuk kegiatan selanjutnya.
  – Menghidupkan kembali permainan tradisional sebagai alternatif kegiatan main di setiap tema. Kami akan mengupayakan literatur tentang ragam permainan tradisional Sasak yang bermakna dan menyenangkan.

Akhir kata, mencoba sesuatu yang baru memang penuh liku. Namun perlahan semua akan terbiasa tanpa harus memaksa.
Semoga kita bisa menapaktilasi perjuangan Bapak Pendidikan dalam upaya memajukan pendidikan di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *