Komunitas Praktisi Sebagai Sayap Sebuah Lembaga Pendidikan untuk Terbang Tinggi 1 (Sekolah Sebagai Ekosistem)

            Komunitas Praktisi merupakan “Sekelompok Individu yang memiliki semangat dan kegelisahan yang sama tentang praktek yang mereka lakukan dan ingin melakukannya dengan lebih baik dengan berinteraksi secara rutin.” (Wenger, 2012). Praktek yang dimaksud bergantung pada konteks peran sehari-hari anggota komunitas praktisi. Praktik dalam Komunitas Praktisi Guru dapat berupa praktik mengajar dan interaksi dengan murid atau orang tua.

            Komunitas Praktisi di sekolah, mempunyai pengaruh besar untuk kemajuan sebuah Lembaga Pendidikan. Hal itu karena Komunitas Praktisi memiliki lima tujuan  yakni: (1) mengedukasi anggota dengan mengumpulkan dan berbagi informasi yang berkaitan dengan masalah dan pertanyaan tentang praktik pengajaran dan pembelajaran, (2) memberi dukungan pada anggota melalui interaksi dan kolaborasi sesama anggota, (3) mendampingi anggota untuk memulai dan mempertahankan pembelajaran mereka, (4) mendorong anggota untuk menyebarkan capaian anggota melalui diskusi dan berbagi, (5) mengintegrasikan pembelajaran yang didapatkan dengan pekerjaan sehari-hari.

            Menilik keberadaan Komunitas Praktisi sebagai sayap dari sebuah Lembaga Pendidikan, sebelumnya mari kita pahami terlebih dahulu mengenai konsep sekolah sebagai sebuah ekosistem.

            Ekosistem merupakan tata interaksi antara makhluk hidup dan unsur  yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. Ekosistem mencirikan satu pola hubungan yang saling menunjang pada sebuah teritorial atau lingkungan tertentu. Kemudian sekolah sebagai ekosistem adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik, yakni unsur yang hidup dan faktor abiotik atau unsur yang tidak hidup.

            Yang termasuk unsur-unsur biotik dalam ekosistem sekolah adalah: (1) murid, yakni anak yang sedang berguru atau belajar di sekolah, (2) guru, yakni orang yang profesinya mengajar pada jenjang Pendidikan dasar dan menengah, (3) kepala sekolah, merupakan guru yang diberi tugas tambahan untuk memimpin suatu sekolah yang menyelenggarakan proses belajar mengajar, (4) staf atau tenaga kependidikan yang merupakan anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan Pendidikan, (5) pengawas sekolah yaitu guru PNS yang diangkat dalam jabatan pengawas dalam satuan Pendidikan, (6) orang tua murid dan (7) masyarakat sekitar sekolah.

            Sedangkan unsur-unsur abiotik dalam ekosistem sekolah meliputi, (1) keuangan, yakni semua sumber pendanaan yang dimilki oleh sekolah yang dikelola untuk keberlangsungan penyelenggaraan Pendidikan, (2) sarana dan prasarana, yakni alat yang digunakan baik secara langsung dan tidak langsung yang pengelolaannya ditujukan untuk mencapai tujuan Pendidikan.

            Demikian sebuah ekosistem sekolah yang merupakan rumah bagi komunitas praktisi untuk berkembang, selanjutnya ia akan menjadi sayap sebuah Lembaga Pendidikan untuk terbang tinggi mengantarkan anak-anak bangsa meraih kebahagiaan dan keselamatan yang setinggi-tingginya (Filosofi Pendidikan Ki Hajar dewantara)  yang merupakan mengejawantahan dari Merdeka Belajar. Mengenai bagaimana mengelola aset yang dimiliki komunitas praktisi, akan kita bahas pada tulisan berikutnya. Salam dan Bahagia, kawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *