Matematika Kehidupan

Selalu ada makna dan hikmah dalam setiap kejadian, entah baik atau buruk dalam kerangka pikir subjektif kita. Subjektivitas itu juga yang menuntun kepada pemahaman bahwa segala sesuatu bersifat relatif. Baik untuk/menurut kita, belum tentu baik untuk/menurut orang lain, terlebih menurut yang Maha Kuasa. Meski sebagian besar kita mengakui itu, tetapi tidak semua bisa menyiapkan ruang keberterimaan yang luas ketika sesuatu yang dianggap baik untuk dirinya tidak dapat diraih. Ada yang bersikap rela dan ikhlas, ada menerima dengan terpaksa bahkan banyak yang tidak rela. Tidak sedikit yang lantang meneriakkan bahwa Tuhan tidak adil padanya.

Penerimaan yang diberlakukan kepada diri cenderung disuarakan tanpa pernah melakukan self assessment sebelumnya. Tidak berusah melihat keadaan diri, kenapa hal itu sampai berlaku terhadap diri. Kepastian sebab itu memang milik Allah, namun setidaknya refleksi diri dapat menjadi dasar kuat bagi kita untuk menerima segala sesuatunya dengan baik dan tidak berlebihan. Mungkin bukan disebabkan oleh diri secara langsung dan disengaja, tetapi bisa juga merupakan imbas dari perbuatan orang lain yang terkait dengan kita. Mungkin juga akibat hal yang tidak kita sadari sepenuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *