Membumikan Total Quality Management dalam Pendidikan

Pendidikan merupakan investasi yang paling mendasar dalam membentuk sumber daya manusia handal sebagai modal bagi pembangunan nasional. Karena itu pendidikan memiliki kontribusi positif dalam membangun sumber daya manusia pembangunan. Tanpa sumber daya manusia yang handal, pembangunan bangsa hanya akan menjadi “angan-angan” tanpa hasil. Tentu bangsa ini tidak mau menyerahkan subjek atau kreator pembangunannya diserahkan kepada bangsa lain. Dengan demikian, untuk mendongkrak sumber daya manusia, maka sudah merupakan harga mati bagi masyarakat untuk setinggi-tingginya dalam mengakses pendidikan. Seringkali kebesaran suatu bangsa diukur dari sejauhmana masyarakatnya mengenyam pendidikan. Semakin tinggi pendidikan yang dimiliki oleh suatu masyarakat, maka semakin majulah bangsa tersebut. Dalam hal ini, kualitas pendidikan tidak saja dilihat dari kemegahan fasilitas pendidikan yang dimiliki, akan tetapi juga dapat diukur dari sejauhmana output atau lulusan suatu pendidikan dapat membangun manusia yang paripurna (Suhardan, 2009) atau dalam pendidikan Islam disebut insan kamil.

Tidak salah jika ekspektasi masyarakat terhadap dunia pendidikan sangat tinggi. Pendidikan diharapkan mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu menghadapi dan memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya. Sumbangan pendidikan terhadap pembangunan bangsa bukan hanya sekedar penyelenggaraan pendidikan, tetapi pendidikan bermutu, baik input, proces, output maupun outcome. Input pendidikan yang bermutu adalah guru, siswa, kurikulum, fasilitas dan berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Proses pendidikan yang bermutu adalah pembelajaran atau Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang bermutu. Output pendidikan yang bermutu dilihat dari lulusan yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan. Sementara outcome yang bermutu tentu saja merupakan lulusan yang mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi atau terserap pada dunia usaha dan dunia industri.

Pentingnya mutu dalam pendidikan, lebih karena pendidikan nasional saat ini sedang dihadapkan pada tantangan besar, baik nasional maupun internasional. Tantangan nasional muncul dari pesatnya perkembangan dunia industri, sosial, budaya, politik dan perkembangan lainnya yang begitu cepat dan dahsyat. Kondisi ini secara langsung maupun tidak langsung menantang dunia pendidikan agar dapat menghasilkan lulusan dengan tingkat critical thinking tinggi untuk memecahkan berbagai persoalan yang hingga saat ini melilit bangsa Indonesia.

Tantangan internasional yang nampak nyata dihadapi adalah persaingan super ketat di era milenial. Globalisasi telah mengantarkan pada perubahan strategis lingkungan bangsa di mata bangsa lain di dunia. Selain itu, pesatnya perkembangan teknologi komunikasi dan informasi di era 4.0 ini telah mendorong pergeseran pola kehidupan menuju pola kehidupan global semakin tidak terbendung. Munculnya forum internasional seperti APEC, AFTA dan lain sebagainya merupakan upaya bangsa menyongsong dan sekaligus mengantisipasi cepatnya perkembangan global. Dalam konteks ini, kemampuan pendidikan nasional berkompetisi dengan pendidikan dari luar negeri, serta menghasilkan lulusan yang mampu berkompetisi dengan lulusan dari lembaga pendidikan lainnya merupakan “PR” besar pendidikan nasional. Karenanya, yang dapat dilakukan adalah meningkatkan mutu pendidikan dari semua sisi.

TQM 1TQM (Total Quality Management) yang juga familiar disebut Total Quality Education kemudian menjadi tawaran solutif untuk memaksimalkan pengelolaan pendidikan. Pendekatan yang pertama kali diperkenalkan Edward Deming ini mengarah kepada bagaimana menjalankan usaha untuk memaksimalkan daya saing organisasi melalui perbaikan berkelanjutan atas produk, jasa, manusia, proses dan lingkungannya. Tujuan utama penerapannya dalam pendidikan adalah ketercapaian mutu yang maksimal dengan batasan awal seperti yang disampaikan Crosby (1996) yaitu quality is free showed that the result of quality lay in the hands of management, not in the quality control departement.

Implementasi TQM bukan suatu hal yang bersifat instan, perlu waktu yang cukup dan proses sistematis serta sustainable. Membutuhkan komitmen bersama dan dilakukan step by step mulai dari komitmen manajemen senior terhadap perubahan, penilaian sistem lembaga pendidikan (internal dan eksternal) dan berorientasi pada costumer satisfaction. TQM juga harus dilembagakan dalam perencanaan strategik dengan menitikberatkan pada keterlibatan karyawan, manajemen proses dan sistem pengukuran. Termasuk di dalamnya adalah penyesuaian dan perluasan tujuan manajemen guna memenuhi dan melampaui harapan pelanggan serta perbaikan atau penyempurnaan sistem (Tjiptono&Diana, 2002). Yang tidak boleh diabaikan adalah karakteristik TQM itu sendiri yang ditunjukkan melalui komitmen tinggi seluruh jajaran organisasi (pemimpin tertinggi hingga karyawan terendah), organisasi yang mantap juga motivasi dan disiplin tinggi.

Untuk dapat melalui step tersebut, lembaga pendidikan harus memenuhi beberapa syarat penting sebagai jaminan sehatnya pengembangan TQM. Peningkatan secara berkesinambungan dan perubahan budaya kerja merupakan keyword penting. Selanjutnya, posisi organisasi ke atas, samping-bawah. Kunci keberhasilan budaya TQM yaitu adanya hubungan efektif (internal dan eksternal) antara pelanggan dengan suplier. Semua jaringan dan komunikasi vertikal maupun horizontal perlu dioptimalkan secara harmonis untuk membentuk iklim kondusif bagi terciptanya kualitas seperti yang diharapkan. Intinya, pemimpin perlu menciptakan budaya komunikasi dengan memanfaatkan semua media secara multiarah setiap diperlukan. Berikut adalah menjaga hubungan dengan pelanggan. Misi utama TQM dalam lembaga adalah memenuhi kebutuhan pelanggan. Lembaga yang unggul akan selalu menjaga kedekatan dengan pelanggan serta terobsesi pada kualitas. Pemimpin lembaga pendidikan perlu mengembangkan paradigma baru untuk lebih fokus ke pelanggan, karena pelangganlah penentu kualitas produk dan proses pendidikan yang diselenggarakan lembaga pendidikan. Finally, memposisikan kolega sebagai pelanggan. Fokus TQM kepada pelanggan bukan sekedar memenuhi kebutuhan dari luar, tetapi kolega yang ada merupakan pelanggan. Keseimbangan dalam memenuhi semua pelanggan baik internal maupun eksternal harus dilakukan secara profesional (Marno & Supriyanto, 2008).

Tidak jarang terlontar pertanyaan sederhana, kenapa harus TQM? Jauh hari sebelumnya Field (1993) sudah menyiapkan jawabannya. Dalam TQM para pendidik harus bertanggungjawab terhadap urusan pekerjaan mereka secara aktif. Mereka harus membangun penyelesaian masalah yang masuk akal dengan mengidentifikasikan dan menunjukkan penyelesaian pada persoalan yang dihadapi. Disamping itu pendidikan membutuhkan proses penyelesaian masalah yang bijak dalam rangka mengidentifikasi dan memberikan penyelesaian masalah. Organisasi sekolah juga harus menjadi model organisasi pengajaran yang tepat untuk semua, baik tingkat dasar, menengah dan tinggi. Nah, untuk menjawab tantangan tersebut hanya mungkin dilaksanakan dengan mengitegrasikan Total Quality ke-dalam sekolah, terutama bila disadari bahwa system yang ada sekarang belum bekerja dengan baik.

Agar dapat berhasil maksimal maka TQM dalam pendidikan harus dilakukan menyeluruh dengan menekankan pada dua konsep utama (Sallis, 1993). Pertama, sebagai suatu filosofi dari perbaikan terus menerus. Kedua, berhubungan dengan alat dan teknik seperti brainstorming dan analisis kekuatan lapangan, yang digunakan untuk perbaikan kualitas dalam tindakan manajemen untuk mencapai kebutuhan yang diharapkan.  Artinya, tidak ada pilihan bagi lembaga pendidikan selain melakukan upaya strategis yang berkaitan dengan pembenahan keorganisasian, pelayanan dan penyediaan sumber daya manusia yang handal, sehingga mampu memberikan pelayanan dan hasil atau produk (lulusan) yang bermutu. Untuk mencapai mutu tersebut, pihak lembaga pendidikan layak merujuk ke para tokoh TQM seperti Edward Deming, Josep Juran dan Philip Crosby, dll.

Hal yang tidak boleh diabaikan adalah implementasi TQM dalam lembaga pendidikan sangat tergantung dari pucuk pimpinan lembaga, pengaruhnya sangat dominan dalam ketercapaian mutu pendidikan. Karenanya, komitmen yang tinggi dari pimpinan merupakan prasyarat terselenggaranya TQM dalam lembaga pendidikan. Dengan komitmen yang tinggi tersebut, ia dapat mengarahkan para bawahannya untuk mampu berbuat maksimal dalam memberikan pelayanan kepada stakeholder-nya. Di samping itu, ia juga dapat mengkomunikasikan visi dan misinya dengan terbuka dan dapat dipahami bawahan untuk diimplementasikan dengan dedikasi tinggi dan penuh tanggungjawab terhadap kewenangan masing-masing.

Dalam hal ini, ada banyak hal yang perlu dilakukan pemimpin lembaga pendidikan yang menjadi pengikat utuhnya dengan TQM. Diantaranya pembuatan keputusan bagi pimpinan harus didasarkan pada data, bukan hanya pendapat saja; pemimpin dominan berperan sebagai pelatih dan fasilitator bagi anggota organisasi; terlibat secara aktif dalam pemecahan masalah yang dihadapi bawahan melalui berbagai pedekatan; berupaya semaksimal mungkin membangun komitmen, yang menjamin bahwa setiap orang memahami visi, misi, nilai dan target organisasi yang jelas. Pemimpin juga harus berupaya membangun dan memelihara kepercayaan anggotanya untuk berkomitmen terhadap pembangunan mutu lembaga; harus paham betul bagaimana mengapresiasi terimakasih kepada anggota organisasi yang berhasil/berjasa; secara aktif mengadakan kaderisasi melalui pendidikan dan pelatihan secara terprogram. Yang perlu diperhatikan adalah perilaku pemimpin dalam organisasi diorientasikan kepada pelanggan internal dan eksternal; memiliki keterampilan dalam menilai situasi dan kemampuan orang lain secara tepat; mampu menciptakan suasana kerja yang menyenangkan; mendengar dan menyadari berbagai kekurangan dan kesalahan anggota organisasi; berusaha memperbaiki sistem dan banyak berimprovisasi secara terus menerus dan bersedia belajar kapan saja dan di mana saja secara terus menerus.

Referensi

Crosby, Philip B., 1996. Quality is Still Free; Making Quality Certain in Uncertain Times. New York: McGraw-Hill.

Field, Joseph.C., 1993. Total Quality Management. Winconsin: ASQC Quality Press.

Marno dan Triyo Supriyatno., 2008. Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam. Bandung: Refika Aditama.

Sallis, Edward., 1993. Total Quality Management In Education. London: Kogan Page Educational Management Series.

Suhardan, Dadang, et all., 2009. Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Tjiptono, Fandy dan Anastasia Diana., 2002. Total Quality Management. Yogyakarta: ANDI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *