Puisi-Puisi Ichaq Rasyid

CINTA BUTA, BISU DAN TULI

Malam ini
Rumput bidadari terpekur, berlutut takluk pada kuasa sang minimum
Dingin menggenggam belulang dan sendi raga
Suara pungguk di pucuk angan isyaratkan kekosongan jiwa
Ingin yang tersapih
Menghirup habis kenangan tentang indah nyanyian hati kemarin
Mengunyah tuntas makna pertalian
Melumat habis arti kesetiaan

Nafas terengah dalam kebiadaban perlakuan
Di altar suci lapisku berdiri
Wajar kaulihat sebagai tilam berlapis duri
Karena mata tak kaubuka utuh

Saat itu, kauberpaling dan berderap pergi tak peduli
Dadaku terasa sakit
Lirihku mengalahkan suara serangga malam
Sungguh, aku pernah kehilangan seorang
Tapi tidak merasakan rasa sakit yang asing
Mengguncang dan mendamba
Mencandai mimpi seorang diri
Ada apa dengan perasaanku padamu

Maafkan aku yang terlambat memahami
Makna cemooh binatang tengah malam

Mungkin karena buta mataku yang tak mampu melihat sisi gelapmu
Bisu mulutku bertasbih namamu tak pernah kaudengar
Tuli telingaku mendengar ucap sayonara-mu

Cintaku memang buta, bisu dan tuli

Taman Puri, 12 Juli 2017

===========================================================

KALI KEDUA

Setelah perjalanan panjang itu
Ini kali kedua realita istirahatkan pikir dalam angan
Hentikan segala irama pengiring tarian erotis jiwa
Abai pada tiupan angin, hempaskan daun pintu reot tanpa penopang
Berderak ribut sesaat, lantas roboh tak berbilang masa
Patahnya menimpa puing yang tak pernah tersusun rapi
Mengoyak tebaran perca usang berdebu

Ini kali kedua, sayang
Kautebar aroma rafflesia dalam semerbak sedap malam
Mengukur malam dalam renggang dekap bidadari
Menggelar tilam hitam pada altar bermarmer indah
Apa yang kauingin …
Bibir merah bergincu munafik
Pipi mulus berdempul khianat
Tubuh telanjang berlapis belacu
Atau irama syahdu mengail syahwat

Ini kali kedua, sayang
Ikhlas kauperhamba diri dalam ingin liar
Bukankah sudah kusampaikan
Sia-sia membingkai angin pada pigura badai
Meski kausembunyikan syahwat pada ujung gelombang
Yakinlah, gema dugamu tak mampu mengukur dalamnya samudra

Sungguh, relamu mengundang angkara
Menarilah dalam lara
Nikmati capaian angan
Aku melihatmu dari pojok gelap tak bertuan

Taman Puri, 12 Juli 2017

==========================================================

MALAM PANJANG

Saat bilur balut asmara meronta
Apa yang musti dipahami?
Rangkaian diksi yang hadir bersama luntur lidah pemanis sukma?
Atau kemerdekaan jiwa yang hampa?
Inikah wujud kebebasan rindu dari setia?

Entahlah
Angan mulai letih melalui malam yang terasa sangat panjang
Sepanjang lirih yang tak terhenti
Sepanjang pikir tentang ketakpahaman berjalan
Sepanjang jujurmu berada pada shaf terakhir sikap

Kusebut saja kau pendamba malam
Laki-laki yang terlanjur nyaman dalam lirih dan lembutnya rasa
Singgung bersinggung di antara balas berbalas
Bak irama dalam dawai menyejukkan
Tapi kaulupa, irama itu berwarna warni dengan karakternya sendiri
Itu kah yang membuatmu ingin irama berbeda

Kepalaku mulai letih berpikir
Malam terasa semakin panjang
Saat malam mulai mengetuk pintu subuh
Yang tersisa hanya dinding hati tak berjiwa
Mengulas pilu di tiap tetes rindu
Meraung, teriaki bulan yang bergegas

Kemudian..
Tunduk pada kesejatian kausalitas hidup
Aku ada karena kauada
Adamu, tak tergantung adaku
Jadi biarkan saja, rindu mengapung menabrak sepi
Dan akuĀ  … biarkan larut bersama luka seiring senyum fajar

Lingkar Muslim, 11 Agustus 2017

=========================================================

PENGECUT !!!

Gaduh hasrat teriaki stage-nya nalar
Barisan kalimat sakti dari pujamu meneror telinga kecilku
Aroma wangi yang asing memaksa indra penciumanku bergiat ekstra
Perlahan, temali perasaan mulai mengikat rasa
Menggenggam erat jiwa tanpa nurani
Kau pengusung sejati sang dusta

Imajinasi menjadi liar tak terkendali
Langkah kita dipenuhi duri asmara berbenih angkara
Di simpang yang kaupilih, langkah ragumu terbaca
Menjauh enggan terikat, laburkan diri pada hasrat berbeda
Mengeja lembaran-lembaran kitab yang tak usai
Kautak akan kuasai apa pun

Kauyang ada entah disudut mana
Jiwa yang teronggok entah di pojok sanubari siapa
Rasa yang tersudut entah di jambangan mana
Kenapa tak sejenak kauberi aku lega dalam bernafas ?
Tidakkah lelah asmaramu menjauhiku ?
Bukankah bathinmu selalu adakan ritual untukku ?

Ah, aku lelah menghitung bintang
Raga lemah menjejaki langkah sekali lagi
Terasa layu, walau sekedar untuk menjamah mimpi
Sungguh, aku sudah lesu zinahi harapan

Andai kau ingin pergi, pergilah
Aku tidak akan menahanmu
Tapi ingat, jika nanti kau kembali
Yakinlah, aku tidak akan menerimamu kembali
Hati dan air mataku terlalu berharga di hadapan dusta

Surabaya, 15 Agustus 2017

==========================================================

==========================================================

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *