Bukti Cinta Langit Untuk Bumi

Tidak sedikit organisasi dan orang yang senantiasa berupaya sedemikian rupa membenturkan kitab suci Al Qur’an dengan ilmu pengetahuan yang berkembang dewasa ini. Begitu banyak pola pikir baru yang dilahirkan dari sekian otak ilmuwan dalam menyikapi eksistensi Al Qur’an. Mencoba tanpa jenuh untuk mencari celah pembenaran bahwa isi Al Qur’an salah, sudah kadaluarsa dan tidak patut diikuti sebagai panduan dalam era 4.0 yang sudah sangat modern. Mereka yang berasal dari golongan “ragu-ragu” mencoba mencari bukti agar keraguannya terjawab. Ada dua kemungkinan, mereka akan menemukan jawaban kemudian berjalan di rel yang semestinya. Kedua, mereka bernasib menyedihkan, tidak menemukan jawaban dan malah menerima konsekuensi negatif dari perilakunya. Mereka yang berasal dari golongan pemegang kitab suci Al Qur’an, berupaya mencari jawaban atas setiap kebuntuan sains pada kalam Allah.

Demikian halnya dengan penciptaan bumi dan langit sebagai bagian utuh dari jagat raya. Ada begitu banyak teori yang sudah disodorkan, misalnya The Big Bang Theory, The Oscillating Theory, Teori Nebula, Planetesimal, Pasang Surut juga teori Awan Debu. Sebagian teori ada yang saling mendukung, ada juga tang saling “menabrak.” Tidak jarang, hal ini menimbulkan pertanyaan lanjut di ruang belajar siswa atau pada obrolan akademis di bangku kuliah, bahkan di warung kopi bagi mereka yang penasaran dan ingin memahami lebih. Pertanyaan mendasarnya, manakah dari sekian teori ini yang paling berpotensi sebagai sebab kejadian? Kalau semuanya berlaku labtas teori yang mendahului, kemudian setelahnya dan seterusnya ataukah terjadi secara bersamaan? Kebingungan itu terjadi, mungkin karena sedang khilaf untuk membuka kitab petunjuk bagi orang yang beriman. Di situ, ada banyak surat dan ayat yang membahas tentang penciptaan dua elemen jagat raya.

Keajaiban al-Qur’an merupakan sebuah fakta ilmiah yang tidak dapat dibantah lagi sebagai sebuah kebenaran. Hal ini telah dibuktikan oleh banyak temuan dalam bidang sains yang pada akhirnya menyimpulkan keajaiban tersebut telah memberikan banyak faedah dan implikasi besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sungguhpun demikian masih banyak keajaiban al-Qur’an lain yang masih menjadi misteri, karena sehakikinya nalar manusia adalah terbatas dalam memahami perubahan alam semesta

ini. Satu hal yang pasti adalah, bahwa Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi.

وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّۗ وَيَوْمَ يَقُوْلُ كُنْ فَيَكُوْنُۚ قَوْلُهُ الْحَقُّۗ وَلَهُ الْمُلْكُ يَوْمَ يُنْفَخُ فِى الصُّوْرِۗ عٰلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْخَبِيْرُ

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan hak (benar). (Sungguh benar ketetapan-Nya) pada hari (ketika) Dia berkata, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu. Firman-Nya adalah benar, dan milik-Nyalah segala kekuasaan pada waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Mahabijaksana lagi Mahateliti. (QS 6 : 73).

Lalu seperti apa langit dan bumi yang diciptakan Allah? Sains modern menemukan bahwa langit terdiri dari lapisan troposfer, stratosfer, ozonosfer, mesosfer, termosfer, ionosfer dan eksosfer. Sekali lagu, para pencari kesalahan Al Qur’an malah dihadapkan pada kebenaran bahwa langit dan bumi masing-masing terdiri atas tujuh lapisan. “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS Al-Baqarah [2]:29). Tujuh lapisan ini ada dengan karakter dan perannya masing-masing. Dunia sains menemukan kenyataan setelah Al Qur’an membahas ini 1.400 tahun yang lalu.

Lapisan atmosfer yang terdekat dengan bumi disebut troposfer. Hujan, salju dan angin hanya terjadi pada troposfir yang membentuk sekitar 90 persen dari keseluruhan massa atmosfer. Lapisan di atas troposfer disebut stratosfer. Lapisan ozon adalah bagian dari stratosfer di mana terjadi penyerapan sinar ultraviolet. Lapisan di atas stratosfer disebut mesosfer. Termosfer berada di atas mesosfer.

Gas-gas terionisasi membentuk suatu lapisan dalam termosfer yang disebut Ionosfer. Bagian terluar atmosfer bumi membentang dari sekitar 480 km hingga 960 km dinamakan Eksosfer. Tertunainya tugas langit atas perintah Allah menjadi bukti kesejatian kasih Sang Pencipta kepada segala makhluk-Nya, sekaligus bukti cinta langit kepada bumi dan segenap isinya.

Pertanyaannya,.sadarkah kita akan cinta itu? Apa kita merasa? Lalu, bagaimana cara kita membalas? Berbicara dalam konteks Indonesia data yang dirilis FAO (Food

Agricultural Organization) cukup “mentereng.” Indonesia mendapat kehormatan sebagai pemecah “rekor dunia” untuk kategori penghancur hutan tercepat di dunia.

Data lembaga ini menyebutkan bahwa penghancuran hutan di Indonesia tahun 2000-2005 merupakan tercepat di dunia. Setiap tahun rata-rata 1,871 juta hektar hutan hancur atau 2% dari luas hutan yang tersisa 88,495 juta pada tahun 2005.

Data ini juga menyumbang rekor berikut dalam Guinness World Record untuk kategori yang sama. Ini baru satu data saja, belum tersaji data dan fakta yang lainnya.

Banyak pihak yang sudah mulai mengakui bahwa bencana alam yang terjadi, bukan lagi murni sebagai permainan alam. Tetapi, sudah menjadi konsekuensi dari ulah manusia yang selalu haus akan lahan, entah untuk mencari nafkah hidup yang sangat atau untuk mengeruk kekayaan maksimal tanpa perduli pada efek yang ditmbulkan untuk jangka panjang, yang penting kebutuhan sesaat dapat terpenuhi. Salah satu contohnya, asap dari proses pembakaran hutan akan segera terbawa angin, tetapi akibatnya akan menjadi beban masa depan.

Sekian kondisi itu dan kondisi lainnya berakumulasi dan bersatu menjadi pemicu munculnya global warming yang dapat berdampak negatif bagi kehidupan ratusan juta warga dunia. Salah satu dampaknya adalah suhu pemukaan bumi pada sekarang-mendatang meningkat diiringi sekian dampak lanjutan. Diantaranya adalah kegagalan panen, kelangkaan air, tenggelamnya daerah pesisir, banjir dan kekeringan. Bagi Indonesia sendiri, fakta kenaikan suhu di beberapa kota besar harus

dianggap bukti mulai berdampaknya perubahan iklim. Hal ini terbukti Indonesia merupakan penghasil karbon dioksida ke tiga dunia.

Mari, sama-sama menyadari cinta Allah kepada makhluk-Nya, cinta langit kepada bumi dengan menjaga kelestarian lingkungan untuk “menyehatkan” kembali lapisan ozon yang sedang sakit. Jangan hanya berharap curahan cinta, tapi kita lupa caranya membalas cinta. Itu egois namanya. 😪😪😪

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *