Guru Malas?

Era saat ini, menjadi dan menjalani profesi guru kadang membuat kesal. Merasa sudah melakukan segala sesuatu untuk mencerdaskan dan membina karakter anak bangsa, tetapi tidak jarang masih menerima tuduhan yang tidak pada tempatnya. Tuduhan yang menafikan segala upaya yang telah dilakukan. Pada saat demikian, pikiran lurus seorang guru perlu dikedepankan. Bahwa hanya orang terdidik yang dapat mengapresiasi penuh upaya-upaya pendidikan yang dilakukan, meski dalam bentuk yang paling sederhana sekalipun. Para Hegelian menganggap bahwa mengemban tugas pendidikan adalah mengemban tugas actus humanus, yang berkewajiban menegaskan kemanusiaan manusia. Pengemban tugas ini harus dapat memastikan perkembangan, pertumbuhan dan perwujudan diri serta segenap ekspresi fisik manusia menjadi lebih hidup, lebih berarti dan lebih bermakna lewat proses pendidikan. Telos-nya adalah manusia terdidik, manusia yang memahami arti keberadaannya di dunia dalam konteks kebersamaannya dengan manusia lain, dengan makluk infrahuman lainnya dan lingkungan alamnya.

Konsep ini secara lugas menempatkan guru sebagai pengemban tugas actus humanus dimaksud. Indonesia mempertegas tugas ini melalui Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2015 dengan memformat guru sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Artinya, guru memikul tujuh beban tugas sekaligus di luar beban adminsitrasi yang juga harus terpenuhi untuk mendukung pelaksanaan tugas utama. Imbal balik terhadap pelaksanaan tugas ini adalah diterimanya tunjangan profesi bagi guru yang diaggap sudah memenuhi syarat. Syarat utamanya adalah guru memiliki sertifikat pendidik yang secara implisit menempatkan guru sebagai guru profesional. Tidak melaksanakan tugas dan fungsi dengan baik, guru akan dianggap tidak/kurang profesional.    

Beban tanggungjawab yang tidak ringan tentu membutuhkan daya dukung maksimal sehingga proses yang dilaksanakan berjalan lancar untuk memperoleh hasil sesuai tujuan. Tidak cukup hanya dalam bentuk financial, political dan good will pemerintah pun sangat penting. Berproses dalam sekian tuntutan yang harus dipenuhi dengan keterbatasan daya pendukung. Untuk hal yang bersifat standar pun (baca: 8 standar pendidikan di Indonesia), masih belum memenuhi ukuran minimal. Sementara tagihan yang harus terjawab nyaris irrasional, lebih besar pasak dari pada tiang. Saat ini guru dituntut menyelesaikan ketimpangan tersebut dalam format kotak kreatif, inovatif, kolaboratif dan harus bersifat komunikatif. Artinya, jika masalah pendidikan (minimal masalah pembelajaran di sekolah masing-masing) tidak dapat diselesaikan, otomatis guru akan diklaim tidak kreatif dan sejenisnya. Masyarakat alpa memperhitungkan masukan dan daya dukung proses yang terjadi di lembaga pendidikan.

Dalam banyak guyonan tentang guru, salah satu yang sering disampaikan narasumber dalam berbagai kegiatan peningkatan kapasitas guru adalah guyonan tentang guru malas. Ketika mengajar di kelas, siswa disuruh mencatat dan gurunya hanya duduk. Ketika anak keluar bermain (istirahat), siswa berlarian kesana kemari dan melakukan aktivitas lain, guru hanya duduk mengobrol. Ketika evaluasi, siswa diminta menjawab soal-soal yang ada, guru hanya duduk di depan kelas menunggu pekerjaan anak selesai. Kesimpulan dari joke ini adalah yang malas itu sesungguhnya guru, bukan siswa. Pertanyaannya, masihkah guru dianggap malas dengan sekian beban tanggungjawab yang harus diemban? Mencoba menjawab pertanyaan ini tentu akan melalui rangkaian diskursus dalam berbagai perspektif. Ujung-ujungnya akan bermuara pada dua hal utama yaitu dukungan dan penolakan. 

Di sisi lain, dengan tegas guru akan menolak jika diklaim tidak melaksanakan tugas (secara profesional). Apa lagi jika hal itu kemudian didukung dengan predikat Guru Malas. Ada banyak dalil yang dapat dikemukakan sebagai landas sahih penolakan. Jika melihat beban kerja ASN secara umum, guru merupakan ASN yang paling sibuk. Harus menyiapkan sekian perlengkapan dalam pembelajaran dengan urusan yang sudah dibahas di atas. Untuk dirinya sendiri guru juga harus menyibukkan diri untuk memenuhi tuntutan kualitas melalui sekian kegiatan agar dikatakan guru yang berkompeten. Lebih lanjut, sebagai ASN guru juga harus memenuhi tuntutan administrasi untuk dapat mengejar kenaikan pangkat dan golongan. Jika kemudian ada sebagian kecil yang keluar dari rel tersebut, dapatkah kemudian dijadikan dasar untuk mengeneralisasi bahwa guru tidak kompeten dan memberi label Guru Malas? Jika pun ada yang demikian, apakah mutlak menjadi kesalahan guru, bukankah di atasnya ada pengawas yang bertugas untuk men-drive guru? 

Sengkarut dunia pendidikan dalam satu sisi yaitu GURU masih sulit diurai ( baik menyangkut kualitas, kuantitas dan distribusi). Belum lagi jika sisi ini dipadupadankan dengan sisi lain dunia pendidikan. Melihat permasalahan ini dengan jernih adalah langkah awal untuk mengurai simpul yang memenjarakan pikiran dalam kotak-kotak naif tentang betapa malasnya guru. Agar balance, dibutuhkan juga pemikiran sehat dari guru untuk menyadari lebih mendalam tugas dan fungsinya yang tidak sekedar berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi pelajaran lalu semua dianggap usai. Minimal guru harus memahami bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang kapur dan papan tulis mati. Tetapi secara hidup menyangkut personal, sosial dan kultural. (Siti Sanisah).

Semoga bermanfaat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *