Meningkatkan Kemampuan Mengenal Sejarah Rasul Melalui Metode Belajar Tepuk Rasul pada Anak PAUD

Raodah
TK NEGERI PEMBINA JONGGAT
Jl. Bypass, Dasan Baru-Sukarara, KM 20, Jonggat 83561
raodahmnuh@gmail.com

Abstract

odahThe study aims to improve the ability of PAUD students in knowing the history of the Prophet of Muhammad SAW through the application of the TEPUK RASUL (Tap Rasul) game. Data of research result mostly obtained from result of observation, documentation and interview with  indicator which divided into five criteria that is Excellent, very good, good, enough and less. The conclusion of the research results leads to a significant increase in the students’ ability to cultivate the history of the Prophet  when learning is done with the Tap Rasul game. This is understandable given the general character and the basis for the early childhood of PAUD is playing. Based on the results of the study, it is suggested to the kindergarten teacher to (1) consider the development and the level of child’s thinking as a reference in choosing the learning approach; (2) giving students the freedom to express themselves based on the learning experience as a refinement of learning; (3) using the method of playing Tap with other creations in accordance with the concept to be conveyed to the students; (4) research is used as a means of evaluation and introspection for teachers in improving the lack of learning activities and provide ideas for improved quality of education to the better and (5) research results can be used as a basis for further research with a wider coverage.

Keywords: Tepuk Rasul Game, Ability to Know History of Prophet, PAUD  

PENDAHULUAN

Pendidikan Nasional merupakan suatu yang berakar pada kebudayaan luhur Bangsa Indonesia, berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Regulasi dimaksud mengamanatkan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan agar pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pengajaran nasional. Terjemahan amanat ini juga telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 6: 1a dan Permendiknas Nomor 11 tahun 2005 buku teks Pasal 1 (Hasan, 2011). Kesuksesan pelaksanaan program pembangunan Nasional dalam rangka membangun manusia Indonesia seutuhnya sangat ditentukan oleh kesungguhan negara dalam melaksanakan pendidikan.

Manusia yang berpendidikan dapat memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan serta menjadi pelopor perubahan dalam tatanan kehidupan, baik skala kecil seperti keluarga, masyarakat, maupun skala besar seperti perubahan negara secara keseluruhan. Sejalan dengan itu, maka otomatis eksistensi pendidikan dengan capaian kualitasnya akan sangat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia. Maka tidak ada pilihan lain peningkatan kualitas sumber daya manusia harus dimulai dari peningkatan kualitas pendidikan. Hal yang tidak dapat dipungkiri adalah permasalahan pendidikan pada era globalisasi dewasa ini sangat kompleks terlebih pada negara berkembang seperti Indonesia. Diskursus dunia pendidikan mulai dari tata kelola, kurikulum, urgensi pendidikan karakter hingga metode pembelajaran yang digunakan guru di dalam kelas untuk mendekatkan siswa pada konsep yang dipelajari (Tilaar, 1998).

Kompleksitas masalah tersebut harus diupayakan penyelesaiannya dari level paling bawah dengan dukungan kebijakan dari pemerintah (pemerintah pusat maupun pemerintah daerah) hingga ke lembaga pendidikan. Pada dasarnya pendidikan merupakan interaksi pendidik dengan peserta didik, interaksi ini disebut interaksi pendidikan yaitu berlangsungnya proses saling mempengaruhi antara keduanya. Dalam proses saling mempengaruhi ini peranan pendidik lebih besar dari peserta didik, karena kedudukannya  sebagai orang yang lebih dewasa, lebih berpengalaman dan lebih banyak menguasai pengetahuan dan keterampilan. Meskipun demikian peserta didik tidak boleh dianggap hanya sebagai penerima pengaruh, sebaliknya memberi pengaruh, yaitu sebagai salah satu komponen pendidikan yang ikut memiliki peran penting dalam mewujudkan tercapainya tujuan pendidikan itu sendiri. Melibatkan anak didik dalam proses pembelajaran menjadi suatu tuntutan (keharusan) sehingga anak didik tidak merasa diabaikan dan hanya dijejali materi pembelajaran (Nuraini, 2017).

Kaitannya dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), sesuai dengan konsep PAUD Indonesia (Satuan dan Sistem Penyelenggaraan), Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 1, butir 14, menjelaskan bahwa PAUD adalah  suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Batasan ini mengandung pemahaman bahwa pendidikan anak pada usia dini sangat penting dilakukan sebagai dasar anak dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya secara postif sekaligus sebagai landas pijak kemampuan berpikir anak.

Dalam Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional (Depdiknas, 2006) disebutkan bahwa, mata pelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan mata pelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai tentang syari’at dari Agama Islam. Lingkup pengembangan nilai Agama dan Moral yang ada di kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini, sementara mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang ada di sekolah. Dalam bentuk pengembangan nilai dan mata pelajaran sama-sama memiliki esensi dan fungsi penting terutama dalam membangun pemahaman agama dan karakter pada anak didik. Pengembangan nilai pada peserta didik usia dini berfungsi sebagai landas awal pengetahuan peserta didik terhadap konsep agama yang sesungguhnya. Usia pada masa dini merupakan masa emas bagi perkembangan kognitif anak, sehingga yang disampaikan oleh guru, orang tua maupun yang direkam anak dari lingkungan akan sangat cepat dan lekat dicerna termasuk tentang agama.

Berdasarkan hasil pengamatan (prapenelitian) yang dilakukan, dapat dikatakan bahwa selama ini tingkat pemahaman siswa kelompok B di TKN Pembina Jonggat, dalam lingkup pengembangan Nilai Agama dan Moral masih tergolong rendah. Khususnya pada indikator Mengenal sejarah Rasul yang merupakan penjabaran dari tingkat pencapaian perkembangan mengenal agama yang dianutnya. Hal ini cenderung disebabkan karena metode pembelajaran yang selama ini digunakan monoton. Pada lima kali observasi diperoleh gambaran kondisi awal pemahaman siswa sebagai berikut.

odah
Sumber: Hasil observasi awal, 2015

Lebih jauh, faktor pemicu kurangnya pemahaman nilai agama dan moral disinyalir karena penggunaan pendekatan/metode pembelajaran yang kurang tepat. Kegiatan pembelajaran didominasi dengan metode bercerita yang sepertinya agak sulit diterima oleh siswa. Selain bahasa yang dipergunakan guru sering tidak relevan dengan usia anak, materi yang disampaikan pun lekas dilupakan oleh siswa. Fenomena ini dapat dipahami mengingat dengan metode bercerita anak dipaksa untuk mendengarkan dan dipaksa menghapal materi pelajaran yang disampaikan oleh guru dengan bercerita. Artinya, guru menjadi pemeran utama dalam pembelajaran tanpa melibatkan anak secara akatif untuk menemukenali materi pelajaran yang hendak mereka dapatkan.

Pemanfaatan metode bercerita dalam pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan dimaksud adalah (1) guru tidak perlu terlalu repot menyiapkan alat peraga, karena bercerita dapat dilakukan tanpa alat peraga; (2) guru bisa melaksanakan pembelajaran sendiri tanpa guru pendamping dan (3) guru lebih mudah mengakomodir kelompok gemuk (peserta didik lebih dari 10 orang dalam satu kelompok). Sedangkan kelemahan metode pembelajaran ini adalah (1) mengingat anak prasekolah yang hanya mampu memusatkan perhatian tidak lebih dari 10 menit, maka metode ini kurang efektif untuk dipakai pada pembelajaran prasekolah; (2) anak usia prasekolah cenderung tidak suka dengan suasana yang kaku (hanya duduk mendengarkan cerita) dan (3) terlalu sering memakai metode bercerita akan menimbulkan kesan membosankan bagi anak.

Berpedaman pada temuan terkait beberapa kekurangan yang terdapat pada metode bercerita maka diupayakan solusinya melalui penerapan metode belajar Permainan Tepuk Rasul. Pada lingkup pengembangan Nilai Agama dan Moral di Kurikulum PAUD 2010, pada Tingkat Pencapaian Perkembangan tertera Mengenal Agama yang dianutnya. Dari sanalah dipetik indikator yang berbunyi Mengenal Sejarah Rasul. Rasul yang dimaksud disini adalah baginda Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian sejarah rasul dalam konteks ini sebatas mengenal nama anggota keluarga rasulullah (ahlul bait) juga kapan dan dimana rasulullah dilahirkan. Bermain tepuk rasul sendiri diterapkan dengan maksud untuk mengajar anak materi/konsep pelajaran tentang Sejarah Rasul dengan memodifikasi tepuk tangan sehingga menjadi permainan yang dapat memicu peserta didik untuk belajar tanpa disadari. Dengan penerapan metode ini, diyakini minat belajar peserta didik akan meningkat karena belajar dilakukan dengan menyenangkan melalui permainan. Pada saat yang sama peserta didik sendiri tidak menyadari bahwa mereka sedang belajar (enjoy for learning).

Pendekatan ini dipilih berdasarkan asumsi bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Dalam kehidupan anak, bermain mempunyai arti yang sangat penting. Dapat dikatakan bahwa setiap anak yang sehat selalu mempunyai dorongan untuk bermain sehingga dapat dipastikan bahwa anak yang tidak bermain pada umumnya dalam keadaan sakit, jasmaniah maupun rohaniah. Bermain secara alamiah memberi kepuasan pada anak, melalui bermain bersama dalam kelompok atau sendiri tanpa orang lain, anak mengalami kesenangan yang lalu memberikan kepuasan baginya (Montolalu, 2008). Tugas urgen pendidik adalah memformat arti bermain ini dalam kegiatan di Taman Kanak-kanak. Perlu diketahui bahwa pendekatan pembelajaran yang dominan di Taman Kanak-kanak adalah enjoy for learning (belajar sambil bermain dan bermain seraya belajar). Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan dan memanfaatkan objek yang dekat dengannya sehingga pembelajaran menjadi bermakna. Alasan yang mendasari argumentasi tersebut adalah bahwa bermain itu merupakan kegiatan belajar, bergerak dan membentuk perilaku (Sudono, 2000).

Intellectual quotient anak sebagian besar dikembangkan dalam kegiatan bermain. Melalui bermain anak memperoleh kesempatan menemukan serta bereksperimen dengan alam sekitarnya, baik ciptaan Tuhan maupun buatan manusia. Mengamati tanaman tumbuh merupakan contoh kegiatan yang dapat meningkatkan pengetahuan anak tentang mengapa dan bagaimana tanaman tumbuh, mengalami perubahan dan berfungsi (sebagai makanan). Anak memperoleh kesempatan pengalaman untuk memperjelas hal yang mereka pelajari di kelas atau di rumah. Bermain juga menumbuhkan rasa ingin menyelidiki yang akan memperkaya pengertiannya sehingga dapat berlanjut dalam hidupnya.

Kegiatan di PAUD untuk merangsang anak menggunakan motorik kasar dan halus dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas bermain, dengan maupun tanpa alat (Kustiawan, 2016). Bermain juga mengembangkan kesadaran anak akan kemampuan tubuhnya ketika menggunakannya dalam kegiatan. Contoh, pengembangan motorik halus melalui bermain, yaitu penggunaan alat, seperti krayon, pensil, gunting, kuas, alat mencocok. Demikian juga halnya dengan pengembangan otot besar untuk motorik kasar, seperti melompat, memanjat, mengelinding, berlari, dan sebagainya. Gerakan motorik kasar ini bukan saja memperkokoh fisik anak, melainkan juga melatih anak untuk mengantisipasi gerak yang ada di lingkungannya. Pengalaman anggota tubuh selama aktivitas bermain menjadikan anak-anak mengembangkan keterampilan bergerak serta merasa percaya diri dengan kekuatan tubuhnya.

Dengan uraian di atas, maka tidak dapat dipungkiri bahwa bermain akan dapat meningkatkan perkembangan dan pertumbuhan anak usia dini yang dalam konteks ini dapat kita pahami sebagai kemampuan. Kemampuan yang dimaksud disini adalah kemampuan dalam mengenal sejarah Rasulullah SAW khususnya tentang materi pelajaran yang mencakup nama anggota keluarga beliau dan sejarah lahirnya beliau. Materi ini termasuk yang cukup sulit bagi siswa di Taman Kanak-kanak ataupun PAUD nonformal. Kesulitan ini kemudian diupayakan solusinya melalui perminan sambil belajar dengan metode Tepuk Rasul.

Bermain Tepuk Rasul dalam pembelajaran diimplementasikan dengan cara mengkreasikan nada tepuk tangan dengan materi pelajaran (konsep yang akan disampaikan kepada peserta didik). Dalam Mengenal Sejarah Rasulullah kreasi Tepuk Rasul yang dipergunakan terdiri dari tiga kali tepuk tangan dengan dua volume secara bergantian, kemudian jeda. Pada volume pertama guru bertepuk tangan tiga kali dan akan menyebutkan kata “rasulmu” di awal permainan sebagai pembuka. Volume kedua siswa juga bertepuk tangan tiga kali seraya menyebutkan nama Rasulullah. Demikian selanjutnya, hingga keluarga Rasullah yang lain juga disebutkan. Pada jeda tepuk tangan, siswa diberi kesempatan menyebutkan nama salah satu keluarga Rasulullah. Jelasnya, sebagai berikut.

Tepuk Rasul

Tepuk Rasul (semua bertepuk tangan 3 kali)

Guru     : Rasulmu (tepuk tangan

Siswa   : Muhammad

Guru     : Ibunya

Siswa   : Aminah

Kegiatan ini dapat diulang sesuai kondisi dan keinginan dengan menyebut keluarga Rasulullah yang lainnya. Dalam hal ini posisi guru dapat digantikan oleh siswa lainnya jika materi tersebut sudah mulai dikuasai anak. Anak-anak bisa di bagi menjadi dua kelompok dengan posisi duduk berhadapan. Kelompok satu sebagai penanya (seperti yang dilakukan guru di awal kegiatan), sedangkan kelompok kedua yang menjawab, begitu sebaliknya. Jika salah satu dari penanya ataupun penjawab diam dalam artian tidak hapal materi, maka kelompok tersebut dinyatakan kalah dan mendapat hukuman. Hukuman yang dimaksud disini tentu saja hukuman yang bermakna edukatif seperti menyanyi, bersyair, menebak huruf dan sejenisnya, karena menurut teori perkembangan tidak boleh memberikan hukuman kepada anak usia TK.

Permainan Tepuk Rasul juga dapat dilakukan secara berkelompok, kelompok 1 sebagai penanya dan kelompok 2 yang menjawab. Pada tahap awal permainan sering macet di tengah permainan karena anak belum hapal materi. Pada saat inilah guru membantu agar permainan bisa dilanjutkan, misalnya pada waktu kelompok 1 yang saat itu sebagai penanya berkata “kakeknya” kemudian tepuk tangan 3x (maksudnya menanyakan nama kakek Nabi Muhammad SAW). Kemudian kelompok 2 yang pada saat itu bertugas menjawab lupa nama kakek Nabi Muhammad SAW, maka permainan tersebut pasti macet, pada saat itulah guru memberikan bantuan dengan membantu menjawab. Begitu juga ketika kelompok penanya lupa materi yang ditanyakan selanjutnya, guru membantu supaya permainan bisa dilanjutkan. Setelah permainan pertama berakhir, dilanjutkan dengan permainan kedua dengan bertukar posisi antara kelompok 1 dan kelompok 2. Pada permainan pertama kelompok 1 sebagai penanya dan kelompok 2 menjawab, maka pada permainan kedua kelompok 2 bertanya dan kelompok 1 menjawab. Begitu seterusnya, hingga pada pertemuan berikutnya.

Beberapa permasalahan yang berhasil diidentifikasi pada pemaparan kondisi dan teori di atas terkait kajian ini adalah (1) metode pembelajaran yang diterapkan guru di tingkat Taman Kanak-kanak seringkali tidak mendorong pemahaman siswa secara kaffah terhadap materi yang dipelajari; (2) guru kurang memahami memahami metode yang tepat untuk diterapkan dalam proses pembelajaran untuk memperoleh hasil yang memadai; (3) guru seringkali menggunakan metode yang monoton dalam pembelajaran sehingga hasil belajar siswa tidak maksimal dan (4) siswa sulit menangkap dan memahami materi pelajaran Sejarah Rasul. Solusi yang ditempuh untuk meminimalisir masalah dimaksud dengan menerapkan metode belajar Bermain Tepuk Rasul untuk meningkatkan kemampuan mengenal sejarah Rasul.

METODE

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang disajikan melalui spiralling cyclus (putaran berspiral) yang meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi serta refleksi (Hopkins dalam Depdiknas, 2001) yang diatur kemudian melalui dua siklus. Sumber data yang digunakan berasal dari kegiatan observasi, wawancara dan dokumentasi termasuk melalui lembar angket untuk orang tua siswa dan guru lainnya. Analisis terhadap data yang sudah diperoleh menggunakan pendekatan analisis diskriptif prosentase dengan rumus sebagai berikut Prosentase (.

Simbul % (persen) pada rumus merupakan prosentase suatu nilai , n (huruf n kecil) merupakan jumlah nilai yang diperoleh  dan N (huruf N besar) merupakan jumlah seluruh nilai. Indikator keberhasilan dalam penelitian adalah perubahan positif pada minat dan motivasi belajar agama siswa khususnya dalam mengenal sejarah rasul. Terdapat lima kriteria yaitu sangat baik, baik sekali, baik, cukup baik dan kurang baik (Sugiyono, 2003).

HASIL PENELITIAN

Kegiatan penelitian pada Siklus I terfokus pada lima kali pertemuan yang dimanfaatkan untuk mengenalkan dan membiasakan anak dengan kegiatan pembelajaran menggunakan metode Tepuk Rasul. Pada momen ini digunakan kesempatan untuk merekam perkembangan peserta didik dalam konteks motivasi belajar guna meningkatkan kemampuan dalam mengenal sejarah Rasul sebagai akibat dari bimbingan yang dilakukan. Kriteria penilaian yang digunakan adalah sangat baik (interval nilai 26–30), baik sekali (interval nilai 21–25), baik (interval nilai 16–20), cukup baik (interval nilai 11–15) dan kurang baik (interval nilai 0–10). Gambaran hasil catatan berdasarkan instrumen terkait perkembangan siswa dalam aspek kemampuan merespon materi yang disampaikan dapat ditampilkan hasilnya sebagai berikut.

Dari grafik di atas dapat diperhatikan bahwa pada pertemuan pertama serapan materi pelajaran siswa seluruhnya berada pada posisi kurang baik. Kondisi ini mengalami perubahan secara bertahap seiring dengan semakin seringnya pembelajaran dilakukan menggunakan metode belajar Tepuk Rasul. Pada pertemuan kedua, peserta didik sudah ada yang masuk pada kategori baik dan cukup baik, kemudian pada pertemuan ke empat dan lima sudah ada juga siswa yang masuk dalam kategori baik sekali. Perubahan kondisi ini tentu berdampak pada berkurangnya jumlah peserta didik yang berada pada posisi kurang baik. Artinya, berdasarkan gambaran ini dapat disimpulkan sementara bahwa permainan yang disajikan oleh guru guna menunjang pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang disampaikan memberikan pengaruh yang positif.

Perkembangan yang belum memuaskan pada Siklus I ini terlihat pada aspek minat dan motivasi siswa dalam belajar mengenal sejarah Rasul. Berdasarkan hasil observasi (prapenelitian) menunjukkan bahwa aspek tersebut perolehannya masih sangat minim. Bahkan dari 20 orang peserta didik yang ada seluruhnya terindikasi memiliki minat yang rendah terlihat dari rata-rata skor 58,85 dalam kategori rendah. Melihat kondisi tersebut maka peneliti berinisiatif mencoba alternatif model pembelajaran yang lain yaitu pembelajaran dengan menggunakan metode bermain tepuk, diharapkan dengan menggunakan metode ini bisa meningkatkan minat dan motivasi siswa dan tidak merasa jenuh ketika proses pembelajaran. Perkembangan positif terlihat meski pun tidak signifikan terjadi setelah pembelajaran pada siklus I usai dilakukan.

Beranjak dari kondisi tersebut, tentu terdapat beberapa hal yang harus diperbaiki, disempurnakan dan ditingkatkan dalam upaya memperoleh hasil yang maksimal pada pembelajaran. Hal dimaksud antara lain (1) guru harus lebih fokus kepada peserta didik yang belum menguasai teknik bermain Tepuk Rasul, hal ini dapat dilakukan dengan meminta bantuan kepada peserta didik lain yang sudah mahir untuk memberikan contoh kepada temannya agar terbina pembelajaran aktif; (2) kegiatan permainan Tepuk Rasul harus diulang beberapa kali agar peserta didik dapat menguasai permainan dengan baik; (3) memberikan perhatian kepada peserta didik yang sudah menguasai permainan Tepuk Rasul dengan baik agar tidak melupakan hal yang sudah dikuasai; (4) memperhatikan dengan seksama perkembangan peserta didik daam penguasaan konsep materi pelajaran (sejarah Rasulullah) agar siswa tidak hanya fokus pada permainan dan (5) guru lebih memperhatikan administrasi pembelajaran yang digunakan.

Siklus II lebih ditekankan pada peningkatan dan perbaikan hasil yang diperoleh selama Siklus I dilaksanakan. Pada siklus II diperhatikan berbagai aspek lebih terfokus terkait dengan (1) kemampuan siswa dalam merespon materi yang di sampaikan guru; (2) kemampuan siswa sebagai penanya dan penjawab pada  permainan tepuk Rasul; (3) kemampuan siswa dalam bekerjasama dengan temannya waktu bermain dan (4) perkembangan motivasi belajar siswa menggunakan permainan Tepuk Rasul.

Grafik di atas memberi gambaran bahwa pada Siklus II telah terjadi peningkatan positif pada peserta didik. Perkembangan ini baik dalam konteks penguasaan terhadap materi pembelajaran (sejarah Rasulullah), penguasaan terhadap permainan Tepuk Rasul, termasuk perkembangan positif terhadap minat dan motivasi belajar siswa. Pada lima kali pertemuan dapat diperhatikan adanya perubahan kondisi peserta didik berdasarkan kategori.  Pada pertemuan pertama peserta didik dengan kemampuan kurang baik masih sangat mendominasi (belum mengalami perubahan dari kondisi terakhir pada Siklus I). Pada pertemuan kedua, kondisi kategori ini juga tidak banyak berubah, hanya saja peserta didik yang masuk dalam kategori lain (cukup baik, baik dan seterusnya) jumlahnya meningkat, bahkan terdapat 2 orang siswa yang sudah mampu memasuki kategori sangat baik. Hingga pada pertemuan terakhir, kondisi terus mengalami perubahan yang positif dan signifikan yang berarti bahwa peserta didik sudah menguasai permainan Tepuk Rasul dengan cukup baik lengkap dengan materi pelajaran yang secara implisit terdapat di dalamnya.

Memperhatikan gambaran data pada 2 siklus penelitian didukung hasil pengamatan terhadap proses pembelajaran, mengarahkan kepada simpulan awal bahwa Permainan Tepuk Rasul sudah dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar peserta didik pada jenjang Taman Kanak-kanak. Statement ini disampaikan dengan melihat antusiasme peserta didik dalam memainkan permainan Tepuk Rasul. Terdapat suasana menyenangkan dan menggairahkan peserta didik untuk bermain ketika guru menyampaikan bahwa pelajaran akan diisi dengan permainan Tepuk Rasul. Dalam waktu singkat kelas menjadi ramai dan siswa pun sibuk mencari teman yang akan menjadi anggota kelompok (jika permainan dilakukan berkelompok).  Pengamatan terhadap aspek tersebut dalam format kuantitatif dapat diperhatikan selengkapnya pada tabel berikut.

DDD
Sumber: hasil penelitian 2015

Terlihat dari tabel bahwa 20 responden memiliki minat yang tinggi, skor tertinggi mencapai 225 (Sangat Baik) dan terendah mencapai 137 (Baik). Artiinya, permainan Tepuk Rasul memang cocok digunakan untuk merangsang minat dan motivasi belajar siswa dalam mengenal Sejarah Rasulullah.

Secara umum, berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara hasil observasi pada prapenelitian, akhir pada siklus I dengan hasil akhir pada siklus II. Pada kegiatan prapenelitian dimana pembelajaran dilakukan dengan mengetengahkan metode bercerita rata-rata skor perolehan peserta didik termasuk dalam kriteria rendah. Skor tertinggi hanya mencapai angka 65 dan terendah mencapai angka 53. Pemberian treatment pada Siklus I sedikit membawa perubahan kondisi peserta didik, ditandai dengan meningkatnya perolehan peserta didik dalam belajar seiring dengan dikuasainya metode belajar baru yang digunakan oleh guru yaitu permainan Tepuk Rasul. Pada siklus II kondisi peserta didik terus mengalami peningkatan termasuk dalam aspek minat dan motivasi mereka belajar menggunakan metode baru dimaksud. Hal ini memberi pemahaman bahwa permainan Tepuk Rasul dapat meningkatkan pengetahuan siswa tentang Sejarah Rasulullah.

PEMBAHASAN

Kurang berhasilnya pembelajaran yang dilakukan dalam upaya peningkatan kemampuan mengenal sejarah Rasul SAW dengan menggunakan metode mendengarkan cerita terjadi karena beberapa sebab. Pada dasarnya, metode bercerita menuntut kecakapan guru dalam menyajikan materi pembelajaran menjadi se-menarik mungkin, sehingga menghindari kesan membosankan bagi siswa. Ditinjau dari segi psikologi perkembangan juga anak usia pra sekolah punya waktu yang terbatas untuk memusatkan perhatian, sehingga pada implementasinya, siswa tidak bisa merespon dengan baik. Kurang fokusnya siswa terutama terjadi  pada kegiatan tanya-jawab diakhir cerita, karena penguasaan materi yang masih kurang dan cara penyampaian materi yang terkesan monoton. Dengan metode bercerita, guru juga terkesan tidak mempedulikan peserta didik. Karena yang memegang peranan sepenuhnya dalam pembelajaran adalah guru, siswa menjadi pendengar setia yang pasif.

Perbedaan dengan pembelajaran menggunakan metode bercerita, pembelajaran yang dilakukan dengan menerapkan permaintan Tepuk rasul ternyata mampu membangun antusias siswa. Dalam pembelajaran siswa merasa tidak berada dalam ruangan kelas namun ditempat bermain.  Perlu disadari pada usia prasekolah berkisar dari 4 sampai 6 tahun, dimana pada usia tersebut  anak-anak berada pada dunia bermain, sehingga pembelajaran dengan metode bermain tepuk ini merupakan alternatif untuk merubah suasana belajar yang terkesan kaku menjadi menyenangkan. Permainan ini juga tanpa sadar membawa peserta didik ke dunia belajar yang sesungguhnya dengan gaya belajar enjoy for learning (belajar yang menyenangkan). Dalam kegiatan ini anak dilibatkan secara penuh dalam pembelajaran melalui permainan sehingga anak tidak merasa bahwa sesungguhnya mereka sedang belajar konsep tentang Sejarah Rasulullah.

Saat bermain tampak jelas perkembangan perilaku anak. Program Kegiatan Belajar PAUD formal ataupun non formal, dipadukan dalam satu program kegiatan belajar yang utuh. Kegiatan mencakup program dalam rangka pembentukan perilaku melalui pembiasaan serta pengembangan pengetahuan dasar. Program pembentukan perilaku merupakan kegiatan yang dilakukan kontinyu dan ada dalam kehidupan sehari-hari anak di Taman Kanak-kanak sehingga menjadi kebiasaan baik. Pembentukan perilaku melalui pembiasaan serta pembelajaran tersebut meliputi moral dan nilai agama, emosi atau perasaan, kemampuan bersosialisasi dan disiplin dengan tujuan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang matang dan mandiri.

Bermain pada anak di usia dini sangat sesuai dilakukan untuk memenuhi beberapa tujuan yang dengan sendirinya merupakan tugas bermain guna (1) menanamkan budi pekerti yang baik; (2) melatih anak untuk dapat membedakan sikap dan periaku yang baik dan yang tidak baik; (3) melatih sikap ramah, suka bekerjasama, menunjukkan kepedulian; (4) menanamkan kebiasaan disiplin dan tanggungjawab dalam kehidupan sehari-hari; (5) melatih anak untuk mencintai lingkungan dan ciptaan Tuhan; (6) melatih anak untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan; (7) melatih anak untuk berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar; (8) menjaga keamanan diri dan (9) melatih anak untuk mengerti berbagai konsep moral yang mendasar, seperti  salah, benar, jujur dan adil (Hughes, 2010). Dalam konteks ini yang perlu diperhatikan adalah anak memerlukan waktu yang cukup banyak untuk mengembangkan dirinya melalui bermain.

Hasil penelitian yang telah dilakukan para ilmuan menyatakan bahwa bermain bagi anak-anak mempunyai arti sangat penting. Melalui bermain anak dapat menyalurkan segala keinginan dan kepuasan, kreativitas dan imajinasinya. Melalui bermain anak dapat melakukan kegiatan fisik, belajar bergaul dengan teman sebaya, membina sikap hidup positif, mengembangkan peran sesuai jenis kelamin, menambah perbendaharaan kata dan menyalurkan perasaan tertekan. Jelaslah bahwa selain bermanfaat untuk perkembangan fisik, kognitif, sosial emosional dan moral, bermain juga mempunyai manfaat yang besar bagi perkembangan anak secara keseluruhan. Adapun manfaat bermain yang dimaksud adalah memicu kreativitas, mencerdaskan otak, menanggulangi konflik, melatih empati (kepekaan sosial), mengasah pancaindera, melakukan penemuan dan melatih daya ingat (Drost, dkk: 2003). Dalam pembahasan ini dapat diketahui bahwa Drost ingin menekankan kepada kita semua manfaat penting bermain bagi perkembangan fisik dan psykologis siswa/anak usia dini.

Dalam lingkungan bermain yang aman dan menyenangkan, bermain memacu anak untuk mengembangkan ide serta menggunakan daya hayalnya. Hasil penelitian mendukung asumsi bahwa bermain dan kreativitas saling berkaitan karena baik bermain maupun kreativitas mengandalkan kemampuan anak menggunakan symbol (Spodek & Sarcho, 1988). Kreativitas dapat dipandang sebagai suatu aspek dari pemecahan masalah yang mempunyai akar dalam bermain. Saat anak menggunakan daya hayalnya dalam bermain dengan atau tanpa alat, mereka lebih kreatif. Dapat diperhatikan dengan seksama ketika beberapa anak bermain bebas di area keluarga, misalnya bermain dokter-dokteran. Balok mainan bisa menjadi telefon untuk menelefon dokter agar datang mengobati anaknya yang sakit. Percakapan mereka sangat kreatif, karangan sendiri. Dokter datang dengan membawa stethoscope dari balok pula yang bentuknya mirip stethoscope menurut anak. Dokter memeriksa dengan kalimat menghibur serta beberapa nasehat disertai ucapan terimakasih oleh si ibu. Selanjutnya si ibu membayar dengan uang dari kertas koran yang sebelumnya dirobek sebesar uang asli dan dokternpun menyerahkan resep obat. Ini bukti bahwa bermain itu memicu kreativitas.

Bermain merupakan media yang sangat penting bagi proses berfikir anak. Bermain membantu perkembangan kognitif anak. Bermain memberi kontribusi pada perkembangan intelektual atau kecerdasan berpikir dengan membukakan jalan menuju berbagai pengalaman yang tentu saja memperkaya cara berpikir mereka. Melalui bermain, anak-anak bisa bebas menguji gagasannya sendiri atau gagasan orang lain (teman bermain). Melalui ini juga, anak-anak dengan sendirinya dapat membedakan hal yang benar dan tidak untuk dilakukan.

Pada anak usia TK tingkah laku yang sering muncul ke permukaan adalah tingkah laku menolak, bersaing, agresif, bertengkar, meniru, kerjasama, egois, simpatik, marah, ngambek dan berkeinginan untuk diterima oleh lingkungan sosial mereka. Apabila kita teliti maka lebih banyak tingkah laku yang asosial daripada tingkah laku yang prososial. Dapat dimengerti bahwa pada periode ini konflik tidak dapat dihindarkan. Semua tingkah laku yang disebutkan di atas, diperlukan pemunculannya justru untuk mengarahkan anak-anak yang asosial  dan egoistis menjadi makhluk sosial melalui keterampilan yang terbina ketika bergaul. Di Taman Kanak-kanak anak-anak diberi peluang untuk mengatasi konflik dan mengembangkan empati melalui bermain dalam kelompok besar ataupun kecil. Sandiwara boneka, bermain dramatisasi bebas dan bercerita dengan berbagai metode, merupakan beberapa kegiatan bermain yang dimaksud.

Empati atau kepekaan sosial adalah pengenalan perasaan, pikiran dan sikap orang lain, dapat juga dikatakan pengenalan jiwa orang lain (Gunarsa, 2007). Dengan kata lain empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang mengidentifikasi atau merasa dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran dan sikap yang sama dengan orang atau kelompok lain. Empati merupakan suatu faktor yang berperan dalam perkembangan sosial anak karena dengan empati anak dapat merasakan penderitaan orang lain. Dengan mengembangkan empati, anak akan pandai menempatkan dirinya dan perasaannya pada diri dan perasaan orang lain dan akan mengembangkan tenggang rasa. Melalui bermain sandiwara boneka atau dramatisasi terpimpin sikap empati dapat dikembangkan.

Kelima indera, yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan dan perabaan merupakan alat vital yang perlu diasah sejak anak masih bayi. Tujuannya tentu saja agar anak menjadi lebih tanggap dan peka terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Ketajaman penglihatan dan pendengaran sangat penting dan dibutuhkan anak usia Taman Kanak-kanak sehingga perlu segera dikembangkan. Ini akan membantu anak lebih mudah belajar mengenal dan mengingat bentuk simbol tulisan yang akan membantu anak belajar membaca dan menulis di SD. Banyak jenis permainan di Taman Kanak-kanak yang menunjang kepekaan panca indera, seperti permainan kotak aroma untuk latihan indera penciuman, gambar di buku untuk latihan indera penglihatan, nyanyian apa rasanya, permainan merasakan berbagai rasa makanan dengan mata tertutup untuk melatih indera pengecapan dan permainan tepuk rasul (seperti yang di maksudkan dalam penelitian ini). Selain untuk melatih daya ingat juga untuk melatih indera pendengaran dan masih banyak lagi.

Ini artinya bermain dapat menghasilkan ciptaan baru (Hughes, 2010). Anak manapun dan usia berapapun, saat bermain sedang menciptakan sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah diciptakan sebelumnya. Anak akan bertanya jika ada sesutau yang belum ia pahami saat bermain. Bagi guru yang berpengalaman, anak yang sedang bermain sering dilihat seperti sedang melakukan penemuan setiap waktu. Penemuan tersebut bisa saja kebetulan, seperti dalam bermain di bak air, ketika anak pertama kali menemukan bahwa jumlah air yang sama dapat mengisi tiga wadah yang sama besar atau sebuah wadah besar atau sebuah wadah besar dan wadah kecil. Apabila air dituang ke wadah, seperti botol ada caranya, apabila air dipukul dengan tangan akan memercikkan kemana-mana, lain dengan pasir. Penemuan baru ini sangat menyenangkan anak. Dan akan memberi gambaran ke guru bahwa anak sedang berkembang dengan baik.

Terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan metode permainan Tepuk Rasul yang berhasil diidentifikasi. Kelebihan dimaksud mencakup (1) disukai anak karena dengan metode ini anak merasa berada di tempat bermain yang menyenangkan, bukan dalam ruang kelas yang membosankan; (2) dapat dilakukan walaupun tanpa alat peraga; (3) dapat dilakukan di dalam maupun di luar kelas dan (4) dapat dilakukan pada waktu pembukaan kegiatan maupun penutup, tidak harus dilakukan pada kegiatan inti. Sementara kekurangan metode ini adalah (1) guru kesulitan mengkoordinir siswa bila dilakukan sendiri tanpa guru pendamping dan (2) sebelum memulai kegiatan, guru harus siap dengan skenario agar tidak kebingungan di tengah pelaksanaan (tidak seperti metode bercerita).

Pada sisi lain dalam konteks psykologis, permainan Tepuk Rasul juga melatih (1) kemampuan siswa dalam bersosialisasi dan komunikasi dengan teman; (2) peserta didik untuk menghargai dan menilai pendapat (jawaban) temannya dalam permainan; (3) self confidence siswa dan (4) keberanian. Dalam permainan, peserta didik dituntut untuk menjalin interaksi dan komunikasi sehat dengan lawan main agar pemainan dapat berjalan dengan baik dan berkelanjutan. Pada kesempatan sama, pemain (peserta didik) juga dituntut untuk menghargai jawaban yang diberikan oleh lawan main dan menilai apakah jawaban yang disampaikan lawan main tersebut benar atau salah. Untuk maksud tersebut dibutuhkan rasa percaya diri siswa dan keberaniannya untuk menyampaikan.

Setiap anak diciptakan olah Allah SWT dengan potensi yang sama, kemudian orang tua, guru dan lingkunganlah yang akan mempengaruhinya dalam mengembangkan potensi tersebut dalam artian meningkatkan kemampuannya. Keberhasilan anak didik dalam rangka meningkatkan kemampuan yang dimilikinya akan sangat ditentukan oleh upaya yang dilakukan orang tua, guru dan lingkungannya. Hal ini sejalan dengan salah satu teori pendidikan mengatakan bahwa anak diibaratkan seperti kertas putih, selanjutnya lingkunganlah yang akan menentukan warna dan bentuk tulisan diatasnya. Faktor lingkungan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan anak dalam menjalankan kehidupannya. Lingkungan yang di maksud disini adalah lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, maupun lingkungan sekolah. Kaitannya dengan upaya guru, salah satunya adalah memilih metode yang tepat dalam melaksanakan pembelajaran, sehingga tujuan dari pembelajaran tersebut dapat tercapai dan potensi yang dimiliki oleh siswa dapat berkembang serta kemampuannya terus meningkat.

John Milthon Gregory merupakan penulis buku yang terkenal tentang Tujuh Hukum Mengajar memberikan beberapa petunjuk yang perlu di persiapkan oleh seorang guru sebelum mengajar, salah satunya adalah melakukan persiapan yang matang terhadap bahan pelajaran termasuk didalamnya adalah memilih metode yang tepat untuk meningkatkan kemampuannya. Metode yang dipilih tentu harus disesuaikan dengan banyak hal terkait dengan karakteristik peserta didik yang akan menerima materi pelajaran melalui metode yang dipilih guru untuk diterapkan. Dalam lingkup pendidikan usia dini, penentuan metode pembelajaran hendaknya dilakukan dengan memperhatikan prinsip pembelajaran di PAUD yang sedikit berbeda dengan sekolah. Prinsip dimaksud meliputi (1) bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain; (2) berorientasi pada perkembangan anak; (3) berorientasi pada kebutuhan anak; (4) berpusat pada anak; (5) menggunakan pendekatan tematik; (6) kegiatan pembelajaran yang PAKEM (Pembelajaran Aktif, kreatif, Efektif dan Menyenangkan); (7) mengembangkan kecakapan hidup; (8) didukung oleh lingkungan yang kondusif; (9) demokratis dan (10) bermakna.

Ketika anak dalam kondisi senang atau gembira, ia akan lebih mudah menyerap pengetahuan, untuk itulah prinsip pembelajaran di Taman Kanak-kanak itu salah satunya adalah belajar sambil bermain dan bermain seraya belajar. Karena dengan bermain anak-anak akan selalu gembira (Hanindita, 2015). Begitu juga dengan bermain tepuk seperti yang menjadi kajian pada penelitian ini, di samping manfaatnya sebagai pelatih indera pendengaran juga untuk melatih daya ingat. Materi pembelajaran yang dikemas dalam permainan tepuk akan jauh lebih menyenangkan daripada mendengarkan ceramah atau penjelasan guru. Anak akan lebih semangat untuk mengingat-ingat materi tersebut karena tidak mau kalah dalam permainan tepuk.

PENUTUP

Berpedoman pada uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode bermain tepuk ternyata dapat meningkatkan kemampuan siswa (terutama dalam materi pelajaran Sejarah Rasulullah). Hal ini dibuktikan melalui perolehan tertiinggi anak pada tahap awal hanya mencapai 65,00 (54 %) sedangkan skor terendah mencapai 53,00, (45 %). Pada kesempatan berikut setelah metode Tepu Rasul diterapkan terjadi peningkatan signifikan yaitu skor tertinggi mencapai 225 (84 %) dengan predikat sangat baik dan terendah mencapai 137 (50 %) dengan predikat baik. Berarti setelah menggunakan metode bermain tepuk, terjadi peningkatan kemampuan sampai 30 %, dari predikat kurang baik menjadi baik sekali.

Berpedoman pada hasil yang telah tercapai pada pada penelitian ini maka dapat disampaikan beberapa rekomendasi yaitu (1) guru di Taman Kanak-kanak mempertimbangkan perkembangan dan taraf berfikir anak sebagai acuan dalam memilih pendekatan pembelajaran serta memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengekspresikan diri berdasarkan pengalaman belajar sebagai suatu penyempurnaan dari pembelajaran dengan metode bermain tepuk; (2) menggunakan hasil sebagai alat evaluasi dan introspeksi bagi guru dalam memperbaiki kekurangan kegiatan pembelajaran dan memberikan gagasan untuk peningkatan mutu pendidikan kearah yang lebih baik; (3) hasil penelitian dapat dimanfaatkan dan dijadikan dasar pertimbangan untuk mengetahui kendala yang dihadapi guru dan siswa dalam membina pengenalan siswa; (4) hasil penelitian dapat dijadikan sebagai input atau masukan untuk sekolah khususnya Taman Kanak-kanak Negeri Pembina Jonggat yang bertugas membina TK-TK swasta di wilayah Kecamatan Jonggat, sebagai upaya dalam memberikan kebijakan untuk kelangsungan proses belajar mengajar terutama yang menyangkut aktivitas-aktivitas belajar siswa dan (3) bagi peneliti lain yang ingin meneliti lebih lanjut diharapkan mencoba menerapkannya dengan cakupan yang lebih luas.

REFERENSI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *