Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Matematika dengan Menerapkan Kerangka Belajar ELPSA

Agus Suryadin
SMP NEGERI 6 KOPANG
Jl. Raya Semparu-Beson KM 2, Bodoberak, Kopang 83553
suryadinagus202@gmail.com

Abstract

This study aims to determine the improvement of students’ motivation and achievement on by applying the ELPSA framework in the field of Mathematics study. This type of research is a classroom action research consisting of two cycles with four stages: planning, implementation, observation and reflection. The indicators of success in this study are (1) the results of student observation and teacher observation during the learning process has obtained an average score of ≥ 4.0; (2) the value of learning achievement reached ≥ 75% of students who expressed complete. The result of the research on the first cycle of student observation on average (3.99), average teacher observation (4.06) and mastery of learning outcomes (69.23). In second  cycle , the average student observation (4.11), average teacher observation (4,31) and completeness of learning result (80,77). The conclusion is that the application of ELPSA framework is very effective to improve motivation and learning result of mathematics. Therefore, as a practical step in improving the quality of learning Mathematics, especially in the context of maximizing students’ motivation and learning achievement so that teachers apply ELPSA framework in learning according to school situation and condition.

Keywords: Motivation, Hasil Belajar, frame work ELPSA

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dan bermanfaat pada semua aspek kehidupan manusia. Melalui pendidikan, manusia dapat dididik dan dibina serta dikembangkan semua potensinya dengan satu tujuan khusus agar manusia dimaksud menjadi manusia yang berkualitas, bertanggungjawab dan berakhlak mulia. Dasar pendidikan di Indonesia sudah diformat sedemikian rupa dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003. Pada regulasi dimaksud dijabarkan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Proses ini dapat dilakukan melalui jalur pendidikan formal, nonformal maupun informal sepanjang lembaga mampu menjalankan tugas pendidikan.

Sumber daya manusia yang berkualitas dalam konteks pendidikan ditunjukkan dengan penguasaan aspek kognitif, afektif dan psykomotor yang maksimal yang diharapkan mampu menjadi modal dasar dalam menghadapi globalisasi. Kompleksnya tantangan pada dunia pendidikan dewasa ini, didukung mudahnya siswa mengakses informasi (tanpa diiringi kemampuan memfilter informasi konstruktif dan destruktif) menuntut pendidik dan lembaga pendidikan berjiwa inovatif dan kreatif dalam mengelola. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari aspek-aspek destruktif dari perubahan lingkungan belajar yang dapat mempengaruhi proses belajar siswa, baik dalam konteks motivasi maupun prestasi belajar. Di sisi lain, kemauan (motivasi) belajar siswa harus didorong sedemikian rupa agar tidak cenderung pada hal yang tidak memberi dampak positif. Sinergi peran lembaga pendidikan dan masyarakat sangat dibutuhkan.

Salah satu hal mendasar dan paling mudah untuk ditelaah guna memastikan terlaksananya tugas pendidikan tersebut adalah prestasi belajar siswa. Keberhasilan siswa dalam pendidikan dapat ditunjukkan dari nilai belajarnya (optimal atau tidak optimal) pada setiap pelajaran yang diikuti. Prestasi belajar yang menunjukkan kemampuan intelektual siswa merupakan penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan murid yang berkenaan dengan penguasaan bahan belajar serta nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum (Djamarah, 1994). Artinya, prestasi belajar tidak datang dengan serta merta namun diperoleh karena adanya aktivitas belajar yang telah dilakukan sebelumnya. Indikator minimalnya adalah adanya perubahan yang terjadi dalam tingkah laku siswa ke arah yang lebih konstruktif.

Guna mencapai prestasi belajar yang diharapkan, banyak hal yang harus diperhatikan baik oleh siswa, guru maupun keluarga. Secara umum faktor tersebut dipilah menjadi faktor intern dan ekstern (Slameto, 2003). Faktor internal adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri. Adapun hal yang dapat digolongkan ke dalam faktor internal ini adalah kecerdasan/intelegensi, bakat, minat dan motivasi. Sementara faktor ekstern adalah faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa yang sifatnya berasal dari luar diri siswa itu sendiri. Faktor ini terdiri dari banyak anasir yang jika dipadupadankan maka akan melahirkan tiga kelompok yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan sekitar siswa. Faktor ini nyaris menjadi penentu keberhasilan siswa dalam mengaktualisasikan kemampuan intelektualnya. Agar kemampuan siswa menjadi maksimal maka kedua faktor utama harus diselaraskan, agar terbina lingkungan belajar yang sehat untuk siswa.

Salah satu unsur penting dalam faktor internal tersebut adalah motivasi belajar. Unsur ini mengarah kepada keadaan yang mendorong siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Pada dasarnya, setiap siswa memiliki motivasi belajar. Permasalahannya adalah kuat dan lemahnya motivasi belajar dan bagaimana cara mengatur agar motivasi tersebut dapat ditingkatkan. Bagaimana pun juga, dalam kegiatan belajar mengajar seorang anak didik diyakini akan berhasil jika mempunyai motivasi belajar yang baik. Goleman (2007) mendeskripsikan motivasi tersebut ke dalam dua ruang besar yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik, dua jenis motivasi ini juga menjadi bagian penting dalam motivasi belajar. Motivasi intrinsik memrupakan jenis motivasi yang timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri. Sementara motivasi ekstrinsik merupakan jenis motivasi yang timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian seseorang mau melakukan suatu kegiatan. Pada siswa hal ini akan membuat siswa mau melakukan sesuatu atau kegiatan belajar.

Banyak teori yang meyakini bahwa motivasi belajar merupakan suatu konsekuensi reinforcement (penguatan), suatu ukuran kebutuhan, bahkan dikatakan sebagai disonan (ketidakcocokan), suatu atribusi dari keberhasilan atau kegagalan, sampai kepada suatu harapan dari peluang keberhasilan. Apa pun alih bahasa terhadap motivasi belajar, yang paling berperan penting dalam hal tersebut di sekolah adalah kepiawaian guru dalam mengelola lingkungan belajar agar dapat memberikan suasana yang menyenangkan ketika anak belajar.

Banyak hal yang dapat dilakukan guru untuk hal tersebut. Pijakan teoritisnya adalah motivasi belajar siswa dapat ditingkatkan dengan melakukan penekanan tujuan belajar dan pemberdayaan atribusi. Di tataran praktisnya motivasi belajar siswa akan meningkat apabila guru dapat membangkitkan minat siswa, memelihara rasa ingin tahu siswa, menggunakan berbagai macam strategi pengajaran, menyatakan harapan dengan jelas dan memberikan feed back (umpan balik) dengan sering dan segera. Motivasi belajar juga dapat didorong apabila guru memberikan reward and punishment yang memiliki kontingen, spesifik dan dapat dipercaya. Hal yang tidak kalah penting adalah guru dituntut untuk kreatif dan inovatif dengan menerapkan berbagai pendekatan, metode dan teknik belajar yang variatif agar anak didik tidak jenuh dan kaku dalam kegiatan pembelajaran. Praktek ini harus didukung dengan media pembelajaran yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Penting untuk disadari oleh guru adalah motivasi merupakan ‘pendorong’ yaitu suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu (Purwanto, 2003). Motivasi juga merupakan usaha menyediakan kondisi tertentu agar seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila tidak suka, maka akan berusaha meniadakan atau mengelakkan perasaan tersebut (Sardiman, 2007).

Pengertian hasil belajar tidak dapat dipisahkan dengan apa yang terjadi dalam aktifitas pembelajaran baik dikelas maupun diluar kelas (Mukhtar, 2003). Apa yang dialami oleh siswa dalam proses pengembangan kemampuannya merupakan apa yang diperoleh dalam belajar dan pengalaman tersebut pada akhirnya dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya keadaan kognitif, efektif dan psikomotornya pada waktu belajar. Kualitas pengajaran yang diterimanya dan cara pengelolaan proses interaksi yang dilakukan oleh guru. Prestasi ini lah kemudian yang harus dilihat perkembangannya melalui kegiatan evaluasi.

Masalah evaluasi hasil belajar mencakup alat ukur yang digunakan, cara menggunakan, cara penilaian dan evaluasinya (Rasid dan Mansur, 2008). Evaluasi hasil belajar yang berhubungan dengan tugas guru rutin dilakukan evaluasi hasil, yang juga dijadikan sebagai dasar untuk memberikan feedback (umpan balik), evaluasi hasil bertujuan menilai apakah hasil belajar dicapai sesuai dengan tujuan (Hakim, 2008). Jadi pendapat ini mengisyaratkan bahwa hasil belajar siswa harus diukur dengan tes tertulis, tes sikap dan kemampuan skill secara nyata selama proses pembelajaran di kelas senyatanya.

Pertautan kuat motivasi dan prestasi belajar sudah terbukti melalui banyak penelitian. Hal ini tidak terbatas pada bidang mata pelajaran tertentu, berlaku menyuluruh. Hasil studi awal peneliti di SMPN 6 Kopang Kecamatan Kopang Kabupaten Lombok Tengah yang khusus melihat pertautan kedua hal tersebut pada bidang studi Matematika menunjukkan halyang tidak jauh berbeda. Namun karena kurang maksimal dikelola, pertautan kedua hal masih dalam kategori rendah. Penyebab utamanya adalah kurangnya inovasi guru dalam mengajar dan kurang tersedianya sarana pembelajaran yang memadai dan dibutuhkan. Dari hasil observasi awal tentang aktivitas belajar siswa dalam dua kali tatap muka yaitu pada materi kesebangunan dan kekongruenan didapat gambaran awal bahwa secara umum motivasi belajar siswa dominan berada pada kategori cukup (65,38% pada pertemuan pertama dan 61,54% pada pertemuan kedua). Siswa yang kategori motivasi belajarnya baik berada pada posisi prosentase paling rendah (15,38% pada pertemuan pertama dan 19,23% pada pertemuan kedua) setelah kategori kurang (19,23% pada pertemuan pertama dan 19,23% pada pertemuan kedua). Tidak terdeteksi adanya siswa dengan motivasi belajar sangat tinggi mau pun sangat kurang. Data tersebut menunjukkan bahwa rerata klasikal motivasi belajar siswa masih rendah yakni 2,45 pada topik segitiga yang sebangun dan 2,50 pada topik segitiga kongruen. Sementara minat belajar siswa dikatakan baik atau sangat baik secara klasikal apabila reratanya lebih dari 4,00.

Minimnya tingkat motivasi belajar siswa tersebut juga didukung oleh data awal prestasi belajar siswa pada materi pelajaran yang sama. Pada materi pertama (kesebangunan) terdapat 17 siswa yang dinyatakan tuntas dalam kegiatan pembelajaran dari 26 orang siswa. Sementara pada materi pelajaran kedua (kekongruenan) hanya terdapat 9 orang siswa yang dinyatakan tuntas dalam pembelajaran dan memenuhi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal yaitu 70).

Sandingan data di atas tentu merupakan suatu teguran halus bagi pendidik untuk dapat lebih kreatif dan inovatif dalam  mengkreasikan pembelajaran. Hal ini juga menjadi penting mengingat selama ini Pelajaran Matematika dianggap pelajaran yang sulit oleh sebagian siswa. Banyak solusi yang dapat diupayakan. Dalam penelitian ini ditetapkan untuk menggunakan kerangka kerja ELPSA dalam menggugah motivasi dan prestasi belajar (terutama dalam  mata pelajaran matematika). ELPSA memiliki keunggulan bila dibandingkan dengan kerangka kerja yang lain karena kerangka kerja ELPSA terdiri dari lima komponen utama. Komponen dimaksud adalah Experience (pengalaman), Language (bahasa yang mendeskripsikan pengalaman), Pictorial (gambar yang menyajikan pengalaman), Symbol (simbol tertulis yang menyatakan pengalaman secara umum atau bersifat general)dan Application (aplikasi yang berhubungan dengan bagaimana pengetahuan yang telah diperoleh dapat diterapkan dalam bermacam-macam situasi) (Lowrie dan Patahudin, 2015).

Dengan kalimat berbeda, dikatakan juga bahwa kerangka kerja ELPSA adalah sebuah model rancangan pembelajaran sebagai acuan guru dalam merancang lesson plan (rencana pembelajaran), yang memberi kesempatan siswa untuk mengungkapkan pengalaman belajarnya (experience), menggunakan bahasa untuk mendeskripsikan pengalaman (language), visualisasi gambar untuk menyajikan pengalaman (picture), simbolisasi tertulis untuk menyatakan pengalaman secara secara umum atau bersifat general (symbol) dan (application) sebagai penerapan pengetahuan yang telah diperoleh dalam memecahkan berbagai macam situasi (Arifin, 2015).

Jadi kerangka kerja ELPSA merupakan suatu pendekatan perancangan pembelajaran bersiklus. Rancangan ini menyajikan ide Matematika melalui pengalaman hidup, percakapan matematika, rangsangan visual, notasi simbol dan aplikasi pengetahuan. Dalam rancangan pembelajaran ini, guru diharapkan mengenalkan konsep memulai dari yang diketahui siswa. Guna membuktikan bahwa kerangka kerja ELPSA dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa maka diadakanlah penelitian dengan judul Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IX A Semester Satu Tahun Pelajaran 2016/2017 dengan Menerapkan Kerangka Kerja ELPSA di SMPN 6 Kopang.

Penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran utuh keterpautan motivasi dan prestasi belajar siswa ketika guru menggunakan atau menerapkan kerangka ELPSA dalam pembelajaran. Kerangka kerja ini dipilih karena diyakini akan  mampu mendorong siswa mengembangkan keterampilan belajar dalam kelompok (kognitif) dan bersosialisasi dengan teman, memotivasi belajar matematika bagi siswa dalam upaya pemahaman secara mandiri (eksplorasi) terhadap mata pelajaran Matematika sehingga hasil belajar dapat ditingkatkan. Sementara bagi guru penerapan kerangka kerja ini menunjukkan adanya upaya pengembangan dalam pembelajaran kerja kelompok (kooperatif), menumbuhkan aspirasi secara ilmiah dalam menjalankan profesi keguruan terutama dalam mengembangkan keprofesian berkelanjutan (PKB) bagi guru Matematika.

METODE

Penelitian ini merupkan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dengan jumlah responden 26 orang (kelas IX-a Semester Satu SMPN 6 Kopang Tahun Pelajaran 2016/2017). Tindakan nyata yang dilakukan oleh guru selaku peneliti adalah dengan menggunakan siklus. Masing-masing tahapan dalam setiap siklus berisikan kegiatan nyata yang akan dilaksanakan, setiap siklus terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi (Sugiono, 1997). Sumber data berasal dari responden dan guru. Jenis data yang dikumpulkan meliputi primer dan skunder melalui observasi dan tes (Arikunto, 1998). Indikator keberhasilannya adalah guru dinyatakan berhasil melaksanakan proses pembelajaran berkerangka kerja ELPSA bila mencapai rerata skor ≥ 4,00 (kategori baik), motivasi belajar Matematika siswa dinyatakan meningkat jika 75% siswa mencapai rerata skor ≥ 4,00 (kategori baik) dan hasil belajar matematika siswa dinyatakan meningkat jika 75% siswa mencapai nilai ≥ 70,00 (lebih dari atau sama dengan KKM).

HASIL PENELITIAN

Mata pelajaran Matematika selama ini dianggap oleh sebagian siswa sebagai mata pelajaran yang paling sulit, termasuk di dalamnya adalah rumitnya materi pelajaran yang ada. Kondisi ini menuntut guru untuk senantiasa kreatif dan inovatif dalam mencari dan mengembangkan metode dan media pembelajaran agar siswa dapat memahami (jika memungkinkan lebih cepat memahami) materi pelajaran yang disampaikan. Prasyarat utama yang diperlukan adalah metoe da media yang dikembangkan tersebut harus memberikan nuansa pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa (dan juga guru), sehingga semua peserta belajar tidak merasa terkungkung dalam ruangan yang kaku dengan materi pelajaran yang rumit. Bagaimanapun juga metode dan media belajar diiringi dengan performance guru yang tidak membuat jenuh akan sangat baik bagi siswa.

Materi pelajaran Matematika terutama dalam pembahasan tentang segitiga baik dalam konsep kesebangunan dan kekongruenan selama ini dapat dikatakan cukup sulit dipahami oleh siswa. Banyak hal yang mendasari hal tersebut, termasuk diantaranya adalah masih kurangnnya penguasaan siswa terhadap teori penjumlahan dan pengurangan. Siswa terlihat masih kesulitan membedakan tanda positif dan negative di depan bilangan. Kondisi ini juga didukung oleh monotonnya kegiatan pembelajaran. Guru biasanya hanya menjelaskan materi pelajaran di depan kelas dan kemudian memberikan siswa tugas untuk menyelesaikan soal tanpa memastikan apakah siswa paham atau tidak materi pelajaran yang sudah dijelaskan. Kondisi inilah yang akan diupayakan solusinya melalui penerapan kerangka kerja LPSA dalam pembelajaran Matematika dengan melihat perkembangan motivasi dan prestasi belajar siswa termasuk perkembangan kreatifitas guru.

Pada kegiatan observasi selama pembelajaran dan pelaksanaan evaluasi setelah pembelajaran selesai yang dilakukan pada Siklus I memberikan gambaran kondisi dan capaian sebagai berikut.

Jenis KegiatanPertemuanIndikator KeberhasilanPerolehan (Rerata)Keterangan
Observasi GuruPertama≥ 4,003,80Belum Tuntas
Kedua≥ 4,004,06Tuntas
Observasi SiswaPertama≥ 4,003,73Belum Tuntas
Kedua≥ 4,003,99Belum Tuntas
Hasil TesPertama≥ 75,00%69,23%Belum Tuntas
Prosentase Ketuntasan30,77%Belum Tuntas
Sumber: Hasil Analisis Peneliti, 2016

Selama proses belajar mengajar guru diamati oleh observers (teman guru Matematika) setiap pelaksanaan kerangka pembelajaran ELPSA. Pada siklus pertama diperoleh data kondisi pembelajaran pada aspek guru dengan skor rata-rata sebesar 3,80 (pada pertemuan pertama) dan 4,06 (pada pertemuan kedua). Berpedoman pada indikator keberhasilan yang sudah ditetapkan sebelumnya untuk aspek guru, maka dapat dikatakan bahwa pada observasi pertama guru tidak tuntas melaksanakan seluruh tahapan kegiatan pembelajaran berdasarkan kerangka kerja ELPSA. Baru pada pertemuan kedua guru berhasil tuntas menerapkan seluruh rangkaian pembelajaran setelah terlebih dahulu memperbaiki kelemahan yang terdapat pada pertemuan pertama.

Aspek yang diobservasi pada siswa dalam konteks motivasi adalah aktivitas siswa dalam diskusi kelompok dan presentasi (mengkomunikasikan hasil belajar). Pada siklus satu diperoleh rerata 3,73% pada pertemuan pertama dan 3,99% pada pertemuan kedua dengan indikator keberhasilan yang sama yaitu 4 (empat). Pada dua kali pertemuan ini, capaian motivasi belajar siswa jika dikomparasikan dengan indikator keberhasilan maka mutlak dikatakan tidak tuntas. Beberapa hal yang berpotensi mempengaruhi hal ini adalah performance guru yang juga tidak tuntas dalam menyampaiakn materi pelajaran menggunakan kerangka kerja ELPSA. Ini akan berdampak pada tidak menentunya suasana pembelajaran pada siswa mengingat metode yang diterapkan oleh guru dianggap sebagai metode baru. Artinya, kondisi ini berimbal balik, guru tidak maksimal dalam penerapan metode pembelajaran berdampak pada tidak maksimalnya motivasi belajar siswa.

Sementara hasil penilaian yang menunjukkan prestasi belajar siswa pada siklus satu memberi gambaran bahwa hanya 18 orang siswa atau 69,23% yang berhasil dinyatakan tuntas dalam pembelajaran. Sementara pada pertemuan kedua (dengan KKM yang sama yakni 70) dengan materi pelajaran berbeda didapati bahwa hanya 8 orang siswa atau 30,77% siswa yang tuntas. Artinya bahwa pembelajaran pada siklus I (pertemuan pertama dan kedua) jika dilihat secara klasikal maka dapat disimpulkan tidak tuntas. Karena rerata perolehan siswa tidak memenuhi atau masih kurang dari KKM. Terdapat hal yang cukup kontradiktif dalam kondisi ini yaitu pada aspek guru terjadi peningkatan capaian dari pertemuan pertama dan kedua, demikian juga halnya dengan aspek siswa jika dilihat dari motivasi belajar. Sementara pada perolehan prestasi belajar justru menunjukkan hal yang tidak maksimal, prestasi belajar siswa masih dapat dikatakan rendah. Faktor penyebab yang berhasil dideteksi adalah materi pelajaran pada pertemuan kedua (kekongruenan) dinilai lebih sulit oleh siswa.

Pada tahapan refleksi peneliti melakukan kegiatan review terhadap seluruh proses pembelajaran yang sudah dilakukan sebagai dampak dari perolehan data hasil observasi guru, observasi siswa dan hasil tes tulis. Hal-hal yang dilaksanakan dalam tahap refleksi adalah sebagai berikut (1) menganalisis penyebab belum tercapainya indikator keberhasilan; (2) merencanakan perbaikan tindakan, menyempurnakan alat/bahan yang dibutuhkan untuk tercapainya indikator keberhasilan dan (3) oleh karena masih ada indikator keberhasilan belum tercapai maka penelitian dilanjutkan ke siklus II.

Pada siklus II kegiatan yang dilakukan masih mengacu pada kegiatan siklus I, bedanya hanya perlu melakukan beberapa perbaikan. Pada aspek guru mencakup (1) penyusunun RPP yang lebih baik dengan mengacu pada kerangka kerja ELPSA; (2) menyiapkan alat, sumber dan bahan yang diperlukan dalam penelitian; (3) menyusun instrumen observasi guru dan instrumen observasi siswa dan (4) menyusun alat evaluasi. Pada aspek siswa diperlukan upaya persiapan kondisi psykologis siswa lebih maksimal lagi agar siap melakukan pembelajaran menggunakan metode dan media yang sudah dipersiapkan oleh guru. Hal ini dilakukan guru diawal pembelajaran melalui kegiatan apersepsi dan motivasi. Guru juga memberi penguatan terhadap materi pembelajaran setelah kegiatan presentasi yang disampaikan oleh siswa agar pemahaman konsep siswa terhadap materi pelajaran dapat lebih mendalam dan kaffah.

Pada sikus II diperoleh data kondisi guru dan siswa sebagai berikut.

NoJenis KegiatanPertemuanIndikator KeberhasilanRerataKeterangan
1Observasi GuruPertama≥ 4,004,24Tuntas
Kedua≥ 4,004,31Tuntas
2Observasi SiswaPertama≥ 4,004,04Tuntas
Kedua≥ 4,004,11Tuntas
3Hasil TesKedua≥ 75,00%80,77%Tuntas
Prosentase Ketuntasan19,23%Belum tuntas
Sumber: Hasil Analisis Peneliti, 2016

Data pada tabel menunjukkan kegiatan guru mengalami peningkatan dari capaian pada siklus I dan sudah keluar dari zone tidak aman pada indiaktor keberhasilan yang sudah ditetapkan. Meskipun menunjukkan progress yang tidak signifikan namun peningkatan ini menunjukkan adanya perubahan ke arah yang lebih konstruktif dari performance guru. Komitmen dan kerja keras guru dituntut dalam hal ini untuk terus mengupayakan perbaikan pada kerangka kerja ELPSA yang diterapkan, sampai siswa familiar dengan metode dimaksud.

Peningkatan capaian juga terjadi pada aspek siswa dalam konteks motivasi belajar. Secara umum motivasi belajar siswa meningkat secara signifikan pada siklus I dan siklus II, dari kondisi tidak tuntas menjadi tuntas. Peningkatan capaian motivasi belajar juga terjadi pada tiap pertemuan (berada pada angka lebih dari angka indikator keberhasilan yang sudah ditetapkan). Jadi tidak dapat diragukan lagi bahwa pemanfaatan metode dan media pembelajaran dalam kerangka kerja ELPSA secara maksimal oleh guru dalam pembelajaran mata pelajaran Matematika khususnya materi kesebangunan dan kekongruenan memberikan pengaruh positif pada motivasi belajar siswa.

Imbas peningkatan konstruktif tersebut adalah meningkatnya capaian prestasi belajar siswa. Sebanyak 80,77% siswa dinyatakan tuntas dalam pembelajaran (dengan indikator keberhasilan 75%). Capaian ini memberi gambaran bahwa prestasi belajar siswa sangat tergantung kepada seberapa besar motivasi belajar yang mereka miliki. Namun sebelumnya yang perlu diperhatkan adalah lingkungan dan suasana belajar siswa, hal ini serat kaitannya dengan kemampuan guru dalam mengelola kelas dan pembelajaran.

Akhir pelaksanaan siklus II juga dilakukan review dan refleksi terhadap rangkaian pelaksanaan pembelajaran (aspek guru dan siswa). Banyak kemajuan yang diperoleh dari pelaksanaan siklus II. Guru yang maksimal menerapkan kerangka kerja ELPSA dalam pembelajaran dapat mengharapkan motivasi dan capaian belajar siswanya maksimal. Asumsi ini didasarkan pada hasil penelitian, mengingat secara umum hasil yang dicapai menunjukkan peningkatan. Jika data siklus I dan II didampingkan maka data perkembangan tersebut sebagai berikut.

NoJenis KegiatanIndikator KeberhasilanSiklus I_P1Siklus I_P2Siklus II_P1Siklus II_P2Keterangan
1Observasi Guru≥ 4,003,804,064,244,31Meningkat
2Observasi Siswa≥ 4,003,733,994,044,11Meningkat
3Tes Tertulis≥ 75,00%69,23%80,77%Meningkat
Sumber: Hasil Analisis Peneliti, 2016

PEMBAHASAN

<!– wp:paragraph –>
<p>Akumulasi hasil ini membawa kita kepada pemahaman bahwa penerapan metode belajar menggunakan kerangka kerja ELPSA memberikan dampak positif terhadap perkembangan motivasi dan prestasi belajar siswa secara umum. Beberapa hal yang belum maksimal dalam penerpan metode belajar tersebut dapat disempurnakan oleh guru pada kesempatan lain ketika kerangka kerja tersebut kembali diterapkan dalam pembelajaran berikutnya.</p>
<!– /wp:paragraph –>

<!– wp:paragraph –>
<p>Prestasi belajar merupakan penilaian pendidik tentang perkembangan dan kemajuan siswa berkenaan dengan bahan belajar serta nilai yang terdapat dalam kurikulum. Hal ini juga dapat diterjemahkan sebagai tingkat keberhasilan siswa setelah menyelesaikan proses belajarnya yang umumnya ditunjukkan dengan angka atau simbol tertentu menurut aturan dalam pendidikan. Tinggi rendahnya prestasi belajar siswa secara umum dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor internal dan eksternal (Syah, 2008). Dalam konteks ini dapat dipahami bahwa motivasi belajar merupakan salah satu anasir dari faktor internal yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Diyakini bahwa siswa dapat mencapai prestasi belajar yang optimal apabila siswa tersebut memiliki motivasi belajar tinggi. Indikator utama yang dapat dijadikan parameter adalah adanya hasrat dan keinginan berhasil, adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar, adanya harapan dan cita-cita masa depan, adanya penghargaan dalam belajar, kegiatan yang menarik dalam belajar dan lingkungan belajar yang kondusif (Uno, 2009).</p>
<!– /wp:paragraph –>

<!– wp:paragraph –>
<p>Guna memaksimalkan pemeliharaan dan peningkatan motivasi belajar siswa, setidaknya guru mempunyai empat fungsi pokok yaitu guru harus dapa menggairahkan anak didik, memberikan harapan yang realistis, memberikan insentif dan mengarahkan perilaku anak didik ke arah yang menunjang tercapainya tujuan pembelajaran. Intinya, banyak hal yang dapat diupayakan guru untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Seperti disampaikan Djamarah (2008) bahwa motivasi belajar siswa dapat ditingkatkan melalui serangkaian kegiatan yang terpaut satu dengan lainnya. Hal tersebut adalah (1) guru hendaknya menggunakan pujian verbal; (2) pergunakan tes dan nilai secara bijaksana; (3) membangkitkan rasa ingin tahu dan hasrat eksplorasi; (4) melakukan hal yang luar biasa; (5) merangsang hasrat siswa; (6) memanfaatkan apersepsi siswa; (7) terapkan konsep atau prinsip dalam konteks unik dan luar biasa agar anak didik lebih terlibat dalam belajar; (8) minta kepada siswa untuk pergunakan hal yang sudah dipelajari; (9) pergunakan simulasi dan permainan; (10) perkecil daya tarik sistem motivasi yang bertentangan dan (11) perkecil konsekuensi tidak menyenangkan terhadap siswa dari keterlibatannya dalam belajar.</p>
<!– /wp:paragraph –>

<!– wp:paragraph –>
<p>Motivasi memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran. Peran utama motivasi adalah mendorong seseorang untuk berbuat, menentukan arah perbuatan kearah yang hendak dicapai dan menyeleksi perbuatan yang akan dilakukan (Shaleh, 2009). Dengan adanya motivasi, siswa akan tergerak untuk belajar dan melakukan berbagai aktivitas terencana agar tujuannya tercapai. Tujuan yang dimaksud dalam konteks ini adalah harapan akan tingginya prestasi belajar sebagai hasil dari proses belajar yang dilakukan.</p>
<!– /wp:paragraph –>

<!– wp:paragraph –>
<p>Disamping faktor eksternal dan internal yang dapat mempengaruhi keberhasilan belajar dan prestasi belajar siswa, faktor pendekatan belajar juga tidak kalah pentingnya (Syah, 2008). Hal ini dibuktikan dengan hasil penilitian yang dilakukan yang menunjukkan perubahan signifikan motivasi dan prestasi belajar siswa karena adanya perubahan metode dan media yang dipergunakan dalam belajar. Pemanfaatan kerangka kerja ELPSA dalam pembelajaran Matematika secara rinci berdampak kepada</p>
<!– /wp:paragraph –>

<!– wp:paragraph –>
<p>Dampak ini dapat dipahami mengingat kerangka kerja ELPSA merupakan tahapan belajar bersiklus (Tom Lowre &amp; Sitti Maesuri, 2015). Meski demikian, dikatakan bahwa ELPSA tidak bukan proses yang berjalan linier, karena pembelajaran merupakan proses kompleks yang tidak dapat diprediksi sepenuhnya dan tidak terjadi dalam urutan linier. Artinya, elemen ELPSA bukan elemen yang dapat berdiri sendiri dan saling mengalahkan satu dengan lainnya. Antarelemen merupakan jaringan yang berhubungan satu sama lainnya dan bersifat saling melengkapi. Dimulai dari pengalaman, percakapan dmatematika, rangsangan visual, menotasi simbol dan aplikasi pengetahuan. Kepiawaian guru untuk memahami dan mengenalkan konsep/materi pelajaran dari pengalaman siswa akan sangat berarti dalam kerangka kerja ini sehingga pembelajaran dapat berhasil dengan baik dan menyisakan presasi yang baik pula pada anak didik.</p>
<!– /wp:paragraph –>

PENUTUP

<!– wp:paragraph –>
<p>Dari data di atas dapat disimpulakan bahwa penerapan kerangka kerja ELPSA sangat efektif untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar Matematika siswa. Hal ini dibuktikan dari capaian motivasi dan prestasi belajar siswa yang meningkat pada siklus I dan siklus II. Kerangka kerja ELPSA dapat menjadi pilihan metode pembelajaran bagi guru untuk meningkatkan lebih mengaktifkan siswa berpartisipasi dalam pembelajaran.</p>
<!– /wp:paragraph –>

<!– wp:paragraph –>
<p>Disarankan agar (1) guru yang menggunakan kerangka kerja ELPSA dalam pembelajaran terlebih dahulu mempersiapkan segala sesuatu (media) yang dapat digunakan dalam pembelajaran semaksimal mungkin agar pembelajaran berjalan lancar; (2) sekolah menjadikan hasil penelitian ini sebagai tolok ukur pembelajaran efektif dan efisien serta sekolah juga diharap memberi dukungan dan memotivasi guru lain untuk menggunakan metode serupa; (3) siswa lebih aktif dan kreatif juga dalam mencari sumber pengetahuan lainnya agar tidak terpaku pada stu sumber dan lebih intens dalam pembelajaran; (4) peneliti lain dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai salah satu referensi dalam penelitian berikut.</p>
<!– /wp:paragraph –>

DAFTAR PUSTAKA

Arifin., 2015. Lesson Plan Berbasis Kerangka Kerja ELPSA untuk Membangun Pemahaman Konsep Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat pada Siswa. Jurnal Kependidikan, XIV (1): 11-21.

Arikunto, Suharsimi., 1998. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Djamarah, Sayaiful Bahri., 1994. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional.

____________________., 2008. Psykologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Goleman, Daniel., 2007. Emotional Intelligence: Kecerdasan Emosional. Jakarta: Gramedia.

Hakim, Lukmanul., 2008. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: Wacana Prima.

Lowre, Tom dan Sitti Maesuri., 2015. ELPSA-Kerangka Kerja Pengembangan Pembelajaran Matematika. Makalah. Dipresentasikan pada Workshop ELPSA di IKIP Mataram.

Lowrie, T dan Patahuddin, S.M., 2015. ELPSA–Kerangka Kerja untuk Merancang Pembelajaran Matematika. Jurnal Didaktik Matematika, II (1), hlm. 94-108.

Mukhtar. 2003., Prosedur Penillaian. Jakarta: Rineka Cipta.

Purwanto, P, 2003. Psikologi Pendidikan, Bandung: Rosdakarya

Rasyid, H dan Mansur., 2008. Penelitian Hasil Belajar. Bandung: Wacana Prima.

Sardiman, AM., 2007. Interaksi dan Motivasi Belajar. Jakarta: Rajawali Press.

Shaleh, Abdur Rahman., 2009. Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam. Jakarta: Prenada Media Group.

Slameto., 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta: Jakarta.

Sugiono., 1997. Statistik Untuk Penelitian. Jakarta: BEY.

Syah, Muhibbin., 2008. Psykologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Uno, Hamzah B., 2009. Teori Motivasi dan Pengukurannya: Analisis di Bidang Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

***Artikel ini pernah dimuat pada Jurnal Handayani (ISSN No. 2476-9231), Volume 2 Nomor 3 Edisi Juli_September 2017, Halaman 343-355.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *