Pendidikan Menggugat: Dekadensi Moral Anak Bangsa

Setiap moment tahun baru, hari valentine, bau nyaledan perayaan hari besar lainnya, di benak sudah sekian hal yang terekam. Bisik anak tetangga tentang acara mereka dengan orang tuanya, celoteh remaja tanggung (anak usia SMP) tentang acara serupa mereka di tahun sebelumnya dan keinginannya di tahun menjelang. Termasuk celoteh alay kaum dewasa tentang heboh dan semaraknya acara yang mereka gelar di beberapa tempat. Tanpa sadar celoteh mereka mengundang rasa ingin tahu pada remaja tanggung. Tanpa rasa bersalah pula, mereka bercerita vulgar tentang banyak hal yang sebenarnya belum layak dikonsumsi anak usia SMP. Tapi ah, siapa peduli. Kelakuan orang dewasa, remaja dan anak-anak dewasa ini tak beda. Tentang moral, jangan ditanya terlebih pada moment tertentu seperti yang disampaikan di awal.

Tidak sulit mengetahui aktivitas mereka. Selain karena perkembangan IPTEK, mereka juga tidak serius menyembunyikan yang dilakukan. Banyak yang berprinsip nggak nakal nggak gaul/keren. Giliran diamankan aparat, kompak menangis. Pesatnya perkembangan IPTEK, khususnya teknologi informasi membuat hubungan antarmanusia semakin mudah dan terasa dekat. Pergaulan dengan heterogenitas tinggi, menempatkan manusia seolah dalam global village tanpa batas, tanpa terkecuali pada batasan moral. Akibatnya, masyarakat sering terjebak dalam dilema moral, senantiasa mengganggu fikiran bahkan pemicu emosi.

Dampak realnya adalah infiltrasi budaya luar (negatif) menjadi mudah tanpa filter kuat. Gaya hidup modern tanpa didasari budi pekerti cepat ditiru. Tawuran ataupun demonstrasi anarkis menjadi budaya baru, bergengsi dan dianggap mengangkat jati diri. Berkembangnya aksi premanisme, emosi meluap, cepat marah dan tersinggung, ingin menang sendiri menjadi bagian hidup pelajar dan mahasiswa yang akrab dalam pandangan masyarakat. Fenomena lain adalah maraknya kasus pelecehan seksual yang dilakukan (dan korban) pelajar atau guru. Tindak kejahatan mencuri, menodong, bahkan membajak bus tidak memilih korban maupun pelaku hatta pelajar sekalipun. Tayangan televisi, kupasan media cetak, berita di internet marak dengan perilaku antagonis.

obrolan kocak guru dan murid
Obrolan kocak guru dan murid

Di sisi lain, penanaman nilai budi pekerti di sekolah mengalami kemunduran. Pelajar sering bertindak tidak sopan terhadap guru dan melecehkan sesama. Guru enggan menegur pelajar yang berlaku tidak sopan di sekolah, terkungkung pada masalah penegakan hukum dan HAM. Hal yang telah berhasil menjadi bad sample adalah mencuatnya banyak kasus hukum melibatkan guru yang sedang berupaya maksimal menyampaikan dan menanamkan pesan moral kepada anak didiknya. Muara yang tercipta kemudian berupa ras yang nonmanusiawi, mesin berbentuk manusia yang tidak sesuai kehendak Tuhan dan alam yang fitrah. Tak dapat dipungkiri, degradasi yang berjalan mantap menuju dekadensi moral anak bangsa ini mulai unjuk gigi. Ironisnya, fenomena ini kerap disorot dalam konteks pendidikan dan didakwa sebagai representasi kegagalan dunia pendidikan.

Moral, umumnya merupakan kebiasaan (adat). Titik tekannya adalah aturan normatif yang perlu ditanamkan dan dilestarikan secara sengaja oleh keluarga, lembaga pendidikan dan pengajian atau komunitas yang bersinggungan dengan masyarakat. Bahkan Immanuel Kant mantap menyampaikan bahwa moralitas ialah keyakinan dan sikap batin, bukan sekedar penyesuaian dengan aturan dari luar (hukum negara, agama atau adat-istiadat). Artinya, moralitas meliputi melaksanakan panggilan kewajiban. Tidak ada kewajiban moral yang tidak sanggup dikerjakan.

Perkembangan moral adalah proses. Melalui proses seseorang mengadopsi nilai dan perilaku yang diterima dari masyarakat. Guna memahami proses tersebut pada pelajar, guru seringkali harus mempertimbangkan bukan hanya yang terjadi di dalam kelas, tetapi juga yang terjadi di dalam keluarga, lingkungan dan kelompok teman seusia pelajar tersebut. Memahami identititas anak menurut Erickson, sangat membantu memahami dunia mereka yang merupakan masa kritis dan labil. Masa pencarian jati diri yang mudah disusupi pengaruh lain, menjurus ke pengambilan keputusan dan tindakan yang tidak sesuai tatanan masyarakat. Bahkan seorang Kohlberg pun menekankan perlunya dominasi moral pada manusia untuk mengisi sebagian besar “kantong kebajikan”. Seseorang yang mencontoh perilaku orang lain sebagai model akan menunjukkan perilaku berlandasan nilai yang diharapkan dari model. Sayangnya, jika model tersebut kehidupannya cenderung kearah amoral tetap tidak akan ditinggalkan begitu saja oleh peniru.

Tidak dapat dipungkiri, masalah moral (pelajar) menjadi perbincangan berbagai kalangan. Dianggap manifestasi kegelisahan masyarakat yang belum menemukan titik temu perdamaian dan keharmonisan. Implikasinya, berbagai bentuk konflik dan kekerasan semakin menjadi dan berkembang. Persoalan tersebut merupakan kekalahan nilai moral yang kurang terintegral dalam kehidupan. Maka peran dan fungsi pendidikan budi pekerti sangat urgen, mengingat semakin lemahnya pendidikan keluarga, kecendrungan negatif dalam kehidupan pemuda dan kebangkitan kembali nilai etik.

Keluarga yang merupakan pendidik pertama anak mulai kehilangan fungsinya, akibatnya vacuum of moral terjadi dalam perkembangan anak. Kehidupan keluarga memiliki pengaruh yang menentukan masa depan anak. Jika kehidupan keluarga memberikan pendidikan yang baik, maka anak memiliki masa depan yang dapat diharapkan karena dididik dengan nilai moral dan etika sosial yang matang. Perkelahian antarpelajar, peserta didik, etnis dan lainnya, dominan akibat disintegrasi keluarga seperti poor-parenting. Anak kehilangan pegangan dan keteladanan. Upaya “pengkandangan” anak dalam kondisi yang di-set up khusus, ternyata tidak lagi mampu menjadi instrumen ampuh penumbuhkembangan nilai moral pada anak.

Interaksi sosial anak sudah sangat terbuka, tidak lagi dapat ditentukan pada kondisi sosial tertentu dan tidak lagi mampu sepenuhnya dibatasi peraturan. Interaksi mereka boleh jadi bertentangan dengan nilai moral, anak telah menyerap nilai amoral tanpa disaringnya akibat pergaulan yang seolah tanpa mengenal batas dan tempat. Upaya meminimalisir hal tersebut dapat melalui jalinan kerjasama kuat orangtua, pengajar dan stakeholder guna menumbuhkan semangat nilai moral bagi kehidupan generasi muda. Dibutuhkan penyadaran pentingnya kehidupan bersama dengan menghormati nilai dasar, seperti saling percaya, menghargai, menghormati, berlaku jujur dan solidaritas sosial terhadap sesama. Ciri tersebut harus merupakan trade mark untuk dijadikan sebagai bekal menuju kedewasaan.

Problematika moral anak merupakan stimuli dinamika interaksi sosial mereka dengan lingkungan eksternal. Pada masa tertentu lingkungan ini dapat lebih mendominasi penumbuhkembangan nilai moral anak dan sering menenggelamkan nilai moral yang telah dimiliki sebelumnya. Pieget dan Kohlberg mengungkapkan bahwa perkembangan moral terkait erat dengan perkembangan kognitif dan buah interaksi perkembangan struktur biologis dan neorologis. Kenyataan ini mengisyaratkan bahwa interaksi sosial merupakan sesuatu yang menentukan tumbuh kembang nilai moral anak. Interaksi sosial yang ditemukan anak kenyataannya sarat dengan dinamika problematika moral yang niscaya mudah menghancurkan nilai moral yang telah dimiliki sebelumnya.

karikatur-bolos

Pernah digagas pendidikan budi pekerti, langkah ini menuai diskursus berkepanjangan yang akhirnya membidani lahirnya pendidikan berbasis karakter. Alasan logis yang disampaikan adalah pendidikan budi pekerti telah tercakup dalam mata pelajaran agama. Pendidikan karakter pun tidak meninggalkan jejak, mengingat padatnya materi pelajaran yang harus disampaikan dengan durasi singkat. Dengan kondisi ini tentu saja sentuhan aspek moral/akhlak/budi pekerti menjadi kurang, termasuk dari dimensi agama menjadi tipis dan tandus. Padahal zaman terus berjalan, budaya terus berkembang, teknologi berlari pesat dan laju arus informasi tanpa limit.

Secara psikologis, pendidikan budi pekerti tepat diberikan pada usia 6 s-d 20 tahun. Masa dominannya inisiatif yang menghubungkan anak dengan banyak pengalaman baru, masa pencarian jati diri, makna diri dan ke mana mereka akan menuju. Aspek penting yang perlu diperhatikan adalah perkembangan individu terutama pada tugas perkembangan sosial dan moral yang diemban. Berpedoman pada focus tersebut, pendidik dapat mengambil langkah cerdas guna meminimalisir keputusan dan tindakan amoral yang dilakukan pelajar. Peran pendidik diharap sebagai motivator dengan melihat keberbedaan, memperlakukan sentuhan kasih sayang dan kesabaran sebagaimana prinsip pendidikan. Untuk itu hubungan baik dan kerjasama sekolah, keluarga dan masyarakat sangat diperlukan.

Artinya, dalam pembentukan dan perkembangan moral anak tidak mutlak menjadi tanggungjawab institusi pendidikan. Peran penting lingkungan (keluarga dan masyarakat) sebagai ruang tempat anak bertumbuh sangat urgen. Pengetahuan awal tentang baik buruknya moral anak dapat dilihat dari background lingkungan tempat bergaulnya. Hal ini akan berproses dan berhasil maksimal jika dalam diri anak juga tertanam kemauan menghindari tindakan amoral. Intinya, kepedulian bersama yang dituntut dalam pebentukan moral konstruktif anak bangsa, jika tidak ingin negara kita mengalami lost generation. Sudah saatnya institusi pendidikan dimaknai tidak hanya sebagai transfer of knowledge, lebih dari itu pendidikan berfungsi sebagai transfer of values. Karenanya, kebijakan dan tindakan yang menghambat transfer of values di institusi pendidikan harus diminimalisir.

Wallahu a’lamu … (Siti Sanisah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *