Penerapan Metode Pembelajaran Diskusi Buzz Group untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran IPA Terpadu

Ana Mardiana
SMP NEGERI 5 JONGGAT
Jl. Raya Puyung-Barejulat, Telp: 0370-6861212, Jonggat 83561
dra.anamardiana@gmail.com

Abstract


This research purpose to know and explain the increase of student achievement on IPA Terpadu lesson if it is applied with learning method of Buzz Group Type to student of SMP. Research data is gain from the research subject through observation test and documentation using student achievement as parameter. Research result shows that (1) occur an increasing of student learning achievement, showed by procentage of completeness of student in learning which have increased since first siclus (42,86 % to 48,57%) to second siclus (60% up to 73,7%) on earlier meeting or even in second meeting and (2) student response to the using of the method of Buzz Group which is very positive. Based on the result of the research, can be concluded that this positive change can be understood because the implementation of the method in learning can be successed optimally if both part in classroom (teacher and student) active together. This learning technique also push student self convidence in learning through enjoy of learning situation (enjoyable). So that it is hoped that teacher continuously sharpened his/her creativities and inovations in learning process so that student is not having bored in attending teaching and learning process. It can be use as an organization of teacher development in increasing professionalism quality as a teacher.

Keywords: discuss, buzz group and learning achievement

PENDAHULUAN

Tantangan pendidikan di masa mendatang cukup serius. Disamping menyediakan lulusan berintelektualitas tinggi dalam menghadapi era globalisasi, juga harus mampu memecahkan persoalan disintegrasi bangsa. Pengajaran di kelas harus mengupayakan keterlibatan aktif siswa untuk berkolaborasi menemukan konsep, prinsip dan fakta secara bersama tanpa memperhatikan perbedaan background suku, agama dan ras. Terkait tuntutan dan tantangan kehidupan masa depan untuk menerapkan dan mengembangkan keunggulan wawasan kekeluargaan dan kebersamaan, yakni wawasan yang menumbuhkan etos kerja maksimal, kemauan mencapai prestasi tertinggi, sikap kritis, keimanan dan ketakwaan, keahlian dan profesional, karya dan cipta, kemandirian dan kewirausahaan, maka sangat tepat bila pembelajaran di kelas menekankan dan membutuhkan siswa aktif terutama pada sekolah menengah (SMP) (Nur, 1998).


Tuntutan tersebut mengharuskan adanya metode pembelajaran tertentu yang dikembangkan agar dapat digunakan untuk membantu meningkatkan taraf belajar siswa, meningkatkan interaksi sosial antar siswa, serta yang dapat meminimkan kasus yang selalu muncul di dalam dunia pendidikan selama ini (Soekamto dkk, 1996). Seperti kasus tawuran antarsiswa maupun antarsekolah dan kasus lain seperti pelanggaran tata tertib sekolah. Metode dimaksud diharapkan dapat juga memberi penekanan terhadap pendidikan dan pemahaman karakter siswa agar dapat menghindari perbuatan lain yang bersifat destruktif dan tidak mengganggu kegiatan (aktivitas) peserta didik di sekolah. Dengan demikian maka peningkatan penguasaan siswa terhadap aspek kognitif, afektif dan psykomotor dapat diharapkan terjadi secara kaffah. Artinya, penekanan aspek pada pendidikan dan pembelajaran tidak ada yang terabaikan.


Dewasa ini telah banyak dikembangkan model pembelajaran, seperti model pembelajaran diskusi kelas. Diskusi merupakan suatu model pembelajaran yang banyak dikembangkan di sekolah yang dipercaya dapat mendorong aktivitas siswa dalam pembelajaran. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran diskusi kelas tidak hanya unggul dalam membantu siswa untuk memahami konsep, tetapi juga membantu siswa menumbuhkan kemampuan kerja sama, berpikir kritis dan mengembangkan sikap sosial siswa dengan temannya maupun guru. Model pembelajaran diskusi memanfaatkan kecenderungan siswa untuk berinteraksi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa baiknya tatanan kelas membuat siswa belajar lebih banyak dari temannya diantara sesama siswa daripada dari guru. Penelitian juga menunjukkan bahwa pembelajaran diskusi kelompok memiliki dampak positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya.


Manfaat pembelajaran model diskusi untuk siswa yang rendah hasil belajarnya antara lain dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar, retensi atau penyimpanan materi pelajaran lebih lama (Amalo, 2003). Sedangkan menurut Slavin dalam Khaerudin, (2004) kerja kelompok membuat anggota kelas merasa bersemangat untuk belajar. Di sisi lain pembelajaran dengan cara diskusi juga diyakini dapat memperkuat interaksi yang terjadi antara peserta didik yang satu dengan yang lainnya, termasuk antara siswa dengan guru dan sebaliknya. Interaksi sehat akan menjadi landas utama suasana belajar yang kondusif. Hal yang juga perlu mendapat perhatian pada metode belajar ini adalah pemanfaatan media belajar dan perhatian/kontrol dari guru yang intens sehingga diskusi dapat berjalan sesuai dengan yang sudah direncanakan. Dan sebaiknya diformat sedemikian rupa agar ruang diskusi tidak berubah menjadi ruang obrolan.


Secara umum, keuntungan diskusi ialah meningkatkan rasa toleransi, memperluas wawasan, meningkatkan keterampilan proses, mendorong siswa menemukan dan mengemukakan pendapatnya. Dengan diskusi siswa akan lebih mudah memahami konsep materi pelajaran yang sedang dipelajari, mendorong siswa untuk mengidentifikasi masalah sendiri dan mengutarakannya, peningkatan kemampuan kepemimpinan, organisasi dan inisiatif, meningkatkan pemahaman terhadap latar belakang yang berbeda. Kesulitannya adalah situasi tempat duduk yang sulit diatur dan banyak menyita waktu pembelajaran (Khaeruddin, 2004). Intinya, diskusi akan membawa siswa pada latihan bagaiman berpikir kritis dan belajar mengkomunikasikan hasil belajarnya secara aktif melalui penyampaian informasi, ide dan gagasannya kepada teman maupun terhadap guru.


Pembelajaran IPA Terpadu di SMP diarahkan pada kegiatan yang mendorong siswa belajar secara aktif, baik fisik, mental-intelektual, maupun sosial untuk memahami konsep IPA Terpadu, khususnya Biologi. Dalam mengembangkan pembelajaran Biologi, yang diharapkan adalah keterlibatan aktif seluruh siswa, menemukan secara bersama-sama pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungan. Intinya pembelajaran yang dikehendaki adalah pembelajaran yang tidak mengabaikan hakikat dan mencerminkan sifat IPA Terpadu sebagai ilmu pengetahuan alam. Hakikat IPA Terpadu yang dimaksud mencakup produk, proses dan sikap ilmiah melalui pendekatan keterampilan proses yaitu pendekatan dalam proses belajar mengajar yang menekankan pembentukan keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikan pemerolehannya (Nur, 1998).


Pembelajaran IPA Terpadu di SMP, khususnya di SMP Negeri 5 Jonggat guru juga menggunakan metode pengajaran diskusi. Untuk mengarahkan diskusi, guru memberikan sejumlah pertanyaan kepada kelompok yang memuat hampir seluruh materi dalam konsep tersebut. Proses pembelajaran hanya dikontrol guru dari meja guru, yang kemudian hasil diskusi tersebut dikumpulkan. Pola diskusi yang dilakukan seperti ini, tidak melatihkan keterampilan tertentu bagi siswa, misalnya keterampilan mengajukan pertanyaan, keterampilan menyatakan ide atau gagasan dan menanggapi pendapat orang lain. Di samping itu, evaluasi terhadap pola pengajaran konsep ini menunjukkan adanya perbedaan yang terlalu jauh antara hasil belajar siswa yang pandai yang mempunyai kemampuan kurang. Hal ini memberi gambaran bahwa pembelajaran yang dilakukan belum disesuaikan dengan karakteristik belajar siswa secara umum. Sehingga pembelajaran cenderung didominasi siswa pintar (bisa) dan abai terhadap siswa lain yang dihadapkan pada masalah tidak pintar atau biasa saja.


Sebagai bagian dari upaya menyikapi permasalahan dan kenyataan pengajaran IPA Terpadu yang ada di SMP Negeri 5 Jonggat, salah satu yang perlu dilakukan antara lain berupa menerapkan pembelajaran yang berorientasi pada suatu metode pembelajaran yang sesuai. Sesuai, dalam konteks ini dapat dipahami sebagai penggunaan metode belajar yang dapat membangkitkan gairah siswa dalam belajar yang kemudian dapat diharapkan dampak positifnya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Dalam pengembangan perangkat pembelajaran yang diperlukan saat ini adalah pembelajaran yang inovatif dan kreatif yaitu antara lain mengembangkan pembelajaran yang berorientasi model pembelajaran diskusi. Metode belajar dimaksud harus tetap memperhatikan aspek psykologis siswa, artinya pembelajaran harus tetap dilakukan dalam konteks enjoy for learning sehingga siswa tidak merasa terbebani dan tertekan dalam belajar.


Ada beberapa tipe pembelajaran dengan metode diskusi kelas, diantaranya adalah tipe buzz group. Tipe ini merupakan suatu bentuk pembelajaran yang bertujuan mengefektifkan partisipasi siswa. Kegiatan ini umumnya dimulai dengan memberi pertanyaan kepada siswa sebagai bagian dari tindakan apersepsi dan motivasi yang telah dikelompokkan 3 sampai 6 siswa untuk berdiskusi atau membahas topik tertentu pada materi pelajaran. Pembagian kelompok dan siswa yang akan menjadi anggota kelompok dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan materi inti pembelajaran yang akan disampaikan. Siswa kemudian diminta untuk melakukan diskusi sesuai dengan tugas yang dibebankan padanya oleh guru. Efek positif dari metode belajar ini seperti yang dipaparkan sebelumnya akan dapat tercapai secara maksimal jika pembelajaran dilakukan dengan persiapan yang matang, baik dalam konteks administrasi maupun pelaksanaan.


Berpedoman pada fenomena yang terjadi pada pembelajaran selama ini, peneliti tertarik untuk membuat penelitian tindakan kelas dengan judul penerapan metode pembelajaran diskusi tipe buzz group untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada Mata Pelajaran IPA Terpadu siswa kelas IX SMP Negeri 5 Jonggat tahun pelajaran 2014-2015. Implementasi metode belajar ini diyakini akan membawa perubahan dalam suasana dan dinamika belajar siswa sehari-hari yang dapat dikatakan hampir jenuh dengan metode yang sama dari waktu ke waktu. Pada pertemuan sebelumnya peneliti melakukan kegiatan pra-penelitan dengan maksud untuk melakukan uji coba penerapan model pembelajaran diskusi tipe buzz group. Hal ini dilakukan agar peneliti lebih memahami latar belakang karakteristik belajar siswa pada Mata Pelajaran IPA Terpadu sehingga guru dapat menyesuaiakn treatment yang diberikan.


Masalah yang berhasil diidentifikasi selama ini kaitannya dengan pembelajaran IPA Terpadu adalah (1) pendekatan dan metode pembelajaran yang diterapkan selama ini masih kurang mendorong keaktifan siswa; (2) dalam pembelajaran, siswa cenderung pasif; (3) pembelajaran dengan metode diskusi tidak mendapat kontrol intens dari pendidik, sehingga keterampilan berpikir kritis, menanyakan materi pelajaran dan mengkomunikasikan hasil belajar siswa tidak terlatih dengan baik; (4) prestasi belajar siswa masih perlu ditingkatkan. Guna memecahkan masalah tersebut hubungannya dengan prestasi belajar siswa maka diupayakan penyelesaiannnya melalui penerapan metode diskusi tipe buzz group dalam pembelajaran. Treatment diberikan kepada siswa kelas IX Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Jonggat tahun pelajaran 2014-2015 dengan harapan pembelajaran lebih aktif dan berdampak pada peningkatan prestasi belajar siswa.

METODE

Jenis penelitian yang dikembangkan dalam upaya memahami masalah yang sudah berhasil diidentifikasi sebelumnya adalah classroom action research atau PTK (Penelitian Tindakan Kelas) (Arikunto, 1998). Penelitian fokus pada pencermatan kegiatan belajar berupa treatment yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Rancangan (desain) penelitian tindakan kelas yang dipergunakan adalah model Kemmis dan McTaggart (Depdiknas, 2005). Pelaksanaan tindakan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) meliputi empat alur (langkah), yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi (Sugiono, 1997) dalam durasi satu semester (6 bulan).

HASIL PENELITIAN

Konektivitas antara model pembelajaran, media yang digunakan dan materi pembelajaran merupakan tiga unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Pengelolaan tiga unsur ini dengan baik dan tepat dipercaya akan berdampak signifikan pada peningkatan motivasi belajar siswa, siswa akan menjadi lebih antusias mengikuti setiap tahapan pembelajaran karena dikenalkan pada hal-hal baru yang menyenangkan. Merasa tertantang untuk menyelesaikan setiap cara belajar baru yang disajikan oleh guru, terutama jika metode belajar yang digunakan bersifat enjoy for learning. Masing-masing, guru dan siswa, akan merasa bahwa pembelajaran yang dilalui menyenangkan. Muaranya, tentu saja harapan pada peningkatan prestasi belajar siswa secara kaffah. Terlebih jika guru menyajikannya dengan cara yang variatif dan inovatif untuk menghindari kejenuhan guru dan siswa dalam belajar.

Riset yang hasilnya tersaji dalam artikel ini memanfaatkan metode belajar diskusi model buzz group untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPA Terpadu. Kegiatan yang dilakukan dipersiapkan sedemikain rupa sebelum pembelajaran dimulai oleh guru, sehingga pada saat pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan sistematis namun tidak kaku bagi siswa dan guru. Dalam perencanaan, guru membuat perangkat pembelajaran seperti silabus, rencana pelaksaan pembelajaran (RPP), lembar observasi, materi dan soal. Rencana pelaksanaan pembelajaran disesuaikan dengan model pembelajaran diskusi yang akan diterapkan yaitu tipe buzz group. Standar kompetensi (SK) yang ditetapkan sebagai landas treatment adalah memahami kelangsungan hidup mahluk hidup.

Pembelajaran dengan diskusi tipe buzz group seperti juga pada pembelajaran dengan metode lainnya, didahului dengan memberikan motivasi dan apersepsi kepada siswa. Hal ini dimaksudkan sebagai persiapan kondisi psykologis siswa untuk memulai pembelajaran agar pembelajaran yang dilaksanakan dapat berjalan dengan lancar dan berhasil baik sesuai yang diharapkan. Di samping itu, motivasi dan apersepsi juga berfungsi sebagai pancingan, agar timbul rasa penasaran/ingin tahu pada siswa terhadap materi pelajaran yang akan dipelajari. Selanjutnya, guru juga menjelaskan tentang model pembelajaran yang akan dilakukan sehingga siswa mengetahui alur pembelajaran yang akan diikuti. Termasuk dalam langkah ini adalah penyampaian kompetensi dasar yang akan dicapai pada materi yang akan dipelajari bersama oleh guru (dapat juga dilakukan dengan meminta bantuan salah seorang siswa). Sesuai dengan model pembelajaran diskusi tipe buzz group, guru menyampaikan materi melalui presentasi singkat.

Setelah penyampaian materi selesai, siswa membentuk kelompok dengan cara mengambil satu buah permen yang disajikan guru (menggunakan teknik number head together). Siswa yang mendapatkan permen dengan warna bungkus dan rasa yang sama berkumpul dalam satu kelompok sehingga terbentuk lima kelompok yang berbeda. Selanjutnya, setelah kegiatan diskusi usai siswa diminta mengambil kertas untuk menunjuk kelompok pertama, kedua sampai kelima yang akan maju untuk presentasi. Setiap satu kelompok yang maju (presentasi) akan ditanggapi oleh kelompok lain yang belum maju (secara bergilir). Ketika presentasi semua kelompok selesai, guru memberikan ulasan mengenai hal-hal yang belum dipahami oleh siswa sekaligus menyimpulkan materi yang telah dipelajari. Di akhir pembelajaran, guru memberi tugas mandiri kepada siswa untuk pendalaman.

Antusiasme belajar siswa pada pelajaran IPA Terpadu yang menggunakan metode belajar diskusi dengan tipe buzz group meningkat dari waktu ke waktu sepanjang penelitian dilakukan. Penyampaian apersepsi dan motivasi dari guru juga mendapat response positif dari siswa. Gambaran ini dapat diperhatikan pada data kuantitatif dibawah yang secara umum menunjukkan adanya peningkatan aktivitas dan motivasi belajar siswa. Termasuk dalam hal ini adalah meningkatnya kreativitas guru dalam mencari celah kelemahan metode belajar yang digunakan dan kemudian diupayakan solusinya. Dari dua sisi yang berbeda, pembelajaran dapat dikatakan sangat dinikmati oleh kedua belah pihak, guru dan siswa. Indikator peningkatan secara kuantitatif dapat diperhatikan pada data berikut.

Sumber Data: Hasil Analisis Peneliti, 2015

Gambaran kondisi pembelajaran pada kesempatan awal menunjukkan bahwa aktivitas siswa agak pasif. Apersepsi yang diberikan oleh guru hanya dijawab oleh seorang siswa. Keaktifan siswa pada saat presentasi kelompok juga masih sangat minim dan nyaris tanpa proses tanya jawab (diskusi). Begitu juga pada saat mengakhiri pembelajaran, hanya ada seorang siswa juga yang berani mengajukan pertanyaan kepada guru. Aspek yang lain sudah lebih dari separuh siswa yang akif tetapi jumlah tersebut belum maksimal sehingga diperoleh nilai akhir keaktifan siswa 40% saja. Dari nilai tersebut, dapat disimpulkan aktivitas siswa pada pertemuan pertama masih kurang aktif. Di sisi lain hal ini juga dapat disebabkan oleh suasana pembelajaran yang relatif kaku, belum lentur dan masim membutuhkan perbaikan baik dari sisi kesiapan guru maupun siswa.

Aktivitas siswa yang terdeteksi masih kurang mencakup empat aspek aktivitas yaitu menjawab pertanyaan yang diberikan guru pada saat apersepsi, mengajukan pertanyaan kepada guru ataupun kepada siswa (kelompok) yang sedang presentasi, menjawab pertanyaan pada saat presentasi serta keberanian menyanggah atau memberikan uraian logis jika pernyataan temannya dianggap tidak sesuai. Sehingga pada pertemuan kedua, aktivitas yang ditunjukkan oleh siswa secara prosentase masih cukup rendah menunjukkan angka 48,57%. Namun, mengalami peningkatan dari kondisi sebelumnya.

Perkembangan positif aktivitas siswa juga terjadi pada pertemuan berikut. Secara rinci dapat diketahui bahwa ada tiga aktivitas siswa yang mendapatkan skor lebih dari 20 yaitu kesiapan siswa dengan skor 24, perhatian siswa dengan skor 25 dan duduk sesuai dengan kelompok mendapatkan skor 23. Partisipasi siswa dalam diskusi kelompok mendapatkan skor 18. Sedangkan empat aktivitas siswa yang lain masih mendapatkan skor masih di bawah 10. Aktivitas siswa tersebut adalah menjawab pertanyaan saat apersepsi, mengajukan dan menjawab pertanyaan pada saat presentasi kelompok serta mengajukan pertanyaan kepada guru tentang materi yang belum dipahami. Walaupun demikian, persentase komulatif aktivitas siswa pada pertemuan ketiga ini sudah mencapai angka 60,00%. Mengalami perkembangan yang cukup baik dari kegiatan pembelajaran sebelumnya. Hal ini memperkuat hasil observasi sebelumnya bahwa terjadi peningkatan yang cukup baik pada aktivitas dan hasil belajar siswa.

Pada pertemuan selanjutnya, perkembangan aktivitas siswa menunjukkan trend yang sangat signifikan. Pada grafik sebelumnya digambarkan bahwa peningkatan terjadi dari pertemuan awal-akhir treatment. Dalam konteks materi pelajaran, perkembangan ini dimungkinkan karena beberapa hal seperti yang disampaikan oleh Soegiyo (2002) yaitu (1) persoalan yang didiskusikan menarik perhatian siswa; (2) sesuai dengan tingkat perkembangan siswa dan (3) memiliki lebih dari satu kemungkinan pemecahan atau jawaban. Selanjutnya jika perkembangan aktivitas ini ditinjau dalam konteks kondidi maka dapat dipastikan bahwa kondisi pembelajaran yang dilaksanakan sudah sagat kondusif, sehingga tujuan penerapan metode diskusi tipe buzz group dapat tercapai denga baik. Tujuan dimaksud adalah (1) meningkatkan kemampuan berpikir siswa dan membantunya membangun sendiri pemahaman materi pelajaran; (2) mendorong keterlibatan siswa mengemukakan gagasan; (3) membantu siswa belajar keterampilan komunikasi; (4) menghormati sesama siswa, ras, suku ataupun jenis kelamin dan (5) meningkatkan kemampuan memecahkan masalah.

Perubahan sikap yang ditunjukkan oleh siswa dan guru pada pembelajaran setidaknya dipengaruhi oleh dua hal yang dapat dikategorikan menjadi dua bagian yaitu faktor internal dan eksternal (Nurkancana, 1986). Atau dalam bahasa lain dapat dikatakan sebagai faktor yang ada pada organisme itu sendiri yang disebut faktor individu dan faktor yang dari luar individu atau faktor sosial (Purwanto, 1984). Faktor ini akan berperan aktif dan secara bersama dalam membangun kemampuan kognitif, afektif dan psykomotor siswa melalui pembelajaran yang diformat dalam suasana enjoy for learning melalui kegiatan diskusi dengan tipe buzz group. Pendekatan yang membuka sekat antara guru dan siswa dalam berkomunikasi, sehingga komunikasi dan penyampaian informasi antarsiswa mau pun siswa dengan guru berlangsung secara sehat dan menyenangkan.

Positifnya perkembangan aktivitas belajar siswa juga diyakini akan memberikan dampak positif juga pada hasil belajar. Hal ini didasari asumsi bahwa pemanfaatan metode belajar yang sesuai dalam pembelajaran akan berdampak motivasi belajar siswa dan pada muaranya akan meningkatkan prestasi belajar siswa. Guna melihat lebih lanjut perubahan prestasi belajar siswa setelah diberlakukan pembelajaran dengan menerapkan metode belajar diskusi tipe buzz group maka oleh guru dilakukan kegiatan evaluasi (Arikunto, 1991). Kegiatan ini dilakukan dua kali pada akhir pertemuan siklus I dan II untuk mengetahui hasil belajar siswa. Jenis tes yang digunakan adalah tes pilihan ganda sebanyak 20 butir soal dan perolehannya seperti yang tertera pada data berikut.

Sumber Data: Hasil Analisis Peneliti, 2015

Evaluasi tahap pertama pemanfaatan metode belajar dimaksud memberi gambaran bahwa jumlah siswa yang telah memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) sebanyak 21 siswa dari 37 orang siswa (56.76%). Sedangkan jumlah siswa yang belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) sebanyak 14 siswa (43,24%). Nilai tertinggi pada hasil tes siklus I ini adalah 90 sebanyak 2 orang sedangkan nilai terendah adalah 30 yang hanya diperoleh satu orang saja. Nilai rata-rata siswa pada siklus I adalah 69,59. Hasil evaluasi berikut (kedua) menampakkan peningkatan hasil dari kegiatan evaluasi berikutnya. Artinya, prestasi belajar siswa mengalami peningkatan.

Penggunaan model belajar diskusi tipe buzz group sejatinya bertujuan untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam mengeksploitasi dan eksplorasi materi karena selama ini cenderung berlaku sebaliknya. Dengan aktifnya siswa dalam mengeksplorasi materi pelajaran, maka diharapkan siswa dapat memahami materi dengan lebih baik yang ditunjukan dengan hasil belajar yang memuaskan. Setelah melihat lembar obsevasi dari pertemuan pertama, pertemuan kedua dan hasil belajar siswa siklus I, dapat simpulkan bahwa hasil yang diperoleh masih belum maksimal. Hal ini dapat dilihat dari jumlah siswa yang tidak tuntas, serta skor tabel aktivitas siswa dan guru yang belum maksimal. Mengingat hal di atas, maka perlu perbaikan yang harus dilakukan oleh guru pada saat melaksanakan proses pembelajaran pada siklus berikutnya.

Adapun hal yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan adalah (1) guru harus memotivasi siswa dengan lebih baik lagi untuk meningkatkan kesungguhan siswa untuk belajar. Pemberian motivasi dengan menjelaskan manfaat materi yang akan dipelajari kepada siswa; (2) pendampingan atau bimbingan guru pada saat diskusi kelompok harus ditingkatkan dengan cara mengarahkan siswa memahami konsep pelajaran yang telah disampaikan; (3) guru harus memotivasi siswa untuk lebih berani mengajukan pertanyaan atau tanggapan terhadap hasil diskusi kelompok lain. Memberikan nilai tambah bagi penanya kepada siswa yang bertanya akan membantu hal tersebut; (4) guru harus menyajikan materi pelajaran dengan lebih baik lagi agar pemahaman siswa menjadi lebih baik lagi. Waktu yang dibutuhkan untuk menjelaskan perlu ditambah serta persiapan tentang penyampaian materi harus lebih baik dan (5) guru harus meminta siswa agar lebih berani bertanya tentang materi yang belum dipahami siswa. Keberanian lebih ditekan daripada kebenaran agar siswa tidak ragu atau takut bertanya.

Pada tabel sebelumnya juga digambarkan bahwa jumlah siswa yang telah memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) sebanyak 32 siswa (91.89%). Sedangkan jumlah siswa yang belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) sebanyak 3 siswa (8.11%). Nilai tertinggi pada hasil tes siklus II ini adalah 100 sebanyak 3 orang sedangkan nilai terendah adalah 60 yang hanya dua orang saja. Nilai rata-rata siswa pada siklus II adalah 78,65. Ini berarti bahwa jumlah siswa yang memenuhi KKM sudah mencapai di atas 80%. Berdasarkan capaian ini, dapat disimpulkan bahwa pada siklus II ini penggunaan model diskusi tipe buzz group dalam pembelajaran sudah berhasil secara signifikan dalam meningkatkan aktivitas/motivasi dan prestasi belajar siswa. Maka dari itu, penelitian ini berhenti pada siklus II.

PEMBAHASAN

Memperhatikan hasil penelitian secara menyeluruh, baik dalam konteks aktivitas siswa dan guru termasuk prestasi belajar siswa dapat dikatakan bahwa pengajaran dengan model pembelajaran diskusi tipe buzz group memberi peran yang signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Secara rinci dapat diperjelas bahwa capaian tersebut membutuhkan perbaikan pada beberapa aspek kecil pada siswa dan guru yang hasilnya meski pun sudah baik dan meningkat (perkembangan capaian dari setiap siklus) namun dirasakan masih kurang maksimal. Hasil demikian cukup membuktikan bahwa metode pembelajaran diskusi dengan menggunakan tipe buzz group dapat diterima dengan baik oleh siswa. Siswa lebih dapat memahami substansi materi pelajaran (khususnya tentang ekosistem) melalui kegiatan diskusi yang melibatkan kelompok aktif, bertanya, berbagi, mencari dan menjawab berbagai permasalahan yang muncul secara bersama-sama dalam suasana pembelajaran yang menyenangkan.

Teknik ini memberikan kesempatan bagi siswa memperoleh pemahaman seragam tentang sesuatu. Proses thinking and  sharing  cukup membantu siswa yang lamban memahami setiap konsep dengan lebih baik. Fungsi tutor sebaya juga berperan mendorong motivasi teman dalam kelompoknya untuk ikut berpikir dan aktif memecahkan setiap permasalahan (Khaerudin, 2004). Dengan penerapan metode belajar ini diharapkan siswa dapat belajar dalam situasi yang menyenangkan sehingga setiap bagian dari kemampuan siswa dapat dieskplor dan selanjutnya digunakan sebagai pendorong menuju prestasi yang lebih baik.

Statement tersebut dapat dibuktikan dari beberapa poin yang terjadi pada pembelajaran, yaitu (1) siswa mengetahui dengan baik indikator atau tujuan pembelajaran yang hendak mereka kuasai secara kognitif; (2) dengan diberikannya tugas berdiskusi berarti siswa dihadapkan dengan sebuah pengalaman. Lalu pengalaman itu tersimpan di memorinya. Tatkala  pengalaman tersebut mereka temukan kembali ketika mendiskusikannya dengan siswa lain, maka pengalaman itu akan melekat semakin kuat; (3) siswa dibiasakan untuk mengungkapkan kembali pengalaman yang telah mereka miliki. Dengan demikian, tatkala mereka mengungkapkannya berarti mereka telah menanam pengetahuan tersebut semakin dalam dalam benaknya; (4) lingkungan yang baik akan menjadi salah satu pemicu baiknya prestasi belajar siswa. Demikian pula sebaliknya. lingkungan yang tidak kondusif akan menjadi penghalang terbesar bagi perkembangan siswa khususnya yang berkaitan dengan pencapaian prestasi belajar yang optimal.

Hal tersebut dapat diakomodir secara baik oleh metode pembelajaran diskusi, khususnya tipe buzz group. Dalam hal ini seorang siswa menjadi sumber belajar bagi siswa lainnya, dan mereka bebas mengungkapkannya kepada teman yang lainnya yang merupakan pembelajar sebaya dengan mereka. Bagaimana pun juga pembelajaran merupakan interaksi antara siswa dengan lingkungannya. Lingkungan bagi siswa yang dimaksud dalam pembelajaran diantaranya adalah guru dan siswa lain yang ada di dalam kelas. Pola interaksi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa yang direncanakan oleh guru sangat menentukan kualitas proses dan pencapaian hasil belajar siswa. Salah satu implikasi dari teori belajar konstruktivis dalam pembelajaran IPA Terpadu dapat diterapkan dalam pembelajaran model diskusi buzz group, di mana siswa dapat memahami konsep yang sulit jika siswa saling berdiskusi kasus tersebut dengan temannya. Melalui diskusi kelompok dapat meningkatkan daya nalar, keterlibatan siswa dalam pembelajaran seperti menanggapi gagasan teman, mengajukan pertanyaan dan menyampaikan gagasannya.

PENUTUP

Pembelajaran yang dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran diskusi tipe buzz group diyakini mampu secara signifkan meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA Terpadu, terutama pada standar kompetensi memahami kelangsungan hidup makhluk hidup. Peningkatan hasil belajar ini salah satunya dibuktikan dengan adanya peningkatan jumlah siswa yang memenuhi Kriteria Ketuntasan Belajar Minimal (dari 56,76% menjadi 91,89%) setelah pembelajaran dilakukan menggunakan metode belajar diskusi tipe buzz group. Hal ini menunjukkan bahwa metode belajar diskusi tipe buzz group baik dan efektif diterapkan pada mata pelajaran IPA Terpadu.

Namun demikian, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut dalam penerapan metode belajar ini agar hasil belajar siswa menjadi lebih maksimal lagi. Hal dimaksud yaitu (1) bagi guru, agar dapat menyegarkan pemahaman yang komprehensif tentang penerapan metode diskusi khususnya tipe Buzz Group, dengan berupaya untuk memotivasi siswa agar rajin melakukan pendalaman materi  diskusi. Selain itu, guru juga hendaknya mempertimbangkan penggunaan metode ini dalam setiap proses pembelajaran yang dilakukannya; (2) sekolah hendaknya menjadikan hasil penelitian ini sebagai tolok ukur pelaksanaan proses belajar mengajar yang efektif dan efisien. Untuk itu, sekolah hendaknya lebih arif dalam memfasilitasi guru yang hendak melaksanakan pembelajaran dengan metode diskusi, atau bahkan menghimbau guru agar mempertimbangkan penggunaannya dalam pembelajaran di kelas; (3) para siswa agar lebih aktif bertanya dan memahami setiap permasalahan yang sedang didiskusikan. Dalam hal ini, siswa hendaknya lebih aktif mencari sumber referensi yang relevan, mengkaji dan memperluas wawasan sehingga mereka memiliki modal yang cukup untuk menyelenggarakan kegiatan diskusi dan (4) para peneliti lain agar hasil penelitian ini dapat dijadikan salah satu pertimbangan untuk mengadakan penelitian lebih lanjut dengan subyek dan obyek yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

­­­­­Amalo, 2003. Penerapan Model Pembelajaran Diskusi Kelas Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Pokok Bahasan Saling Ketergantungan di SLTP Negeri 9 Kupang NTT. Tesis. Surabaya: Unesa

Arikunto, S. 1991. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

_______, 1998. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta

Dakir, 1997. Didaktik Umum 2. Yogyakarta: Institut Press IKIP.

Djamarah. 1994. Kompetensi Guru dan Prestasi Belajar. Surabaya: Usaha Nasional.

Khaerudin, 2004. Pendekatan Pembelajaran Sains, Surabaya: SIC.

Nur, M. 1996. Konsep Tentang Arah Perkembangan Pendidikan IPA SMP dan SMU Dalam Waktu 5 Tahun Yang Akan Datang. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Menengah Umum

Nur, M. 1998. Perkembangan Selama Anak-Anak dan Remaja. Surabaya: UNESA.

Nurkancana, Wayan. 1995. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: PT. Usaha Nasional.

Purwanto, N. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Soegijo, 2002. Classroom Discussion. Surabaya: Unesa Press.

Soekamto, T. & Winataputra, U. S. 1996. Teori Belajar dan Model-model Pembelajaran. Jakarta : Pusat antarUniversitas untuk Peningkatan Aktivitas Instruksional Dirjen Dikti Depdikbud.

Sugiono. 1997. Statistik Untuk Penelitian. Jakarta: BEY.

***Artikel pernah dimuat pada Jurnal Handayani, Volume 2 Nomor 3 Edisi Juli-September 2017, Halaman 330-342.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *