RENUNGAN PEREMPUAN TENTANG PEREMPUAN

Ditulis Oleh: Dr. Siti Sanisah, M.Pd. (Pemerhati dan Pelaku Pendidikan, Pegiat Sosial)

Isu tentang perempuan terkadang menjadi hal yang sangat menarik untuk diperbincangkan, baik oleh kalangan pemikir sekuler, agamawan bahkan sampai masyarakat awam. Dalam perspektif historis, ketika berbicara tentang perempuan, maka ada dua asumsi dasar yang berlawanan satu sama lain tentang topik ini yaitu  adanya keterpurukan dan keagungan.

Keterpurukan, dilihat dari historisnya dalam perkembangan peradaban sejak zaman jahiliyah. Perempuan sempat menempati posisi tawar yang tak bisa ditawar. Pelecehan merupakan menu utama dalam santapan keseharian mereka. Nihil hak namun kaya kewajiban. Setiap action yang ditunjukkan selalu mendapatkan rewards yang bertentangan dengan azas kemanusiaan. Berbicara, merupakan hal yang tabu.

Hal yang sama berlaku, pun ketika dengan kodrat yang dikuasakan oleh Yang Maha Kuasa, perempuan tersebut melahirkan seorang anak wanita, maka dengan sendirinya itu akan menjadi aib bagi keluarga. Perlakuan tak adil terulang lagi. Pada tataran ini pria menggenggam keyakinan bahwa eksploitasi adalah hak mereka. Kekuasaan pria merupakan gender yang teramat sangat dominan, tanpa perempuan bisa intervensi meski dalam hal yang prinsip tentang dunia perempuan itu sendiri. Para pemikir di era dark age bahkan lebih ekstrim lagi berargumen bahwasanya jiwa perempuan bersifat kebinatangan dan sama sekali berbeda dengan jiwa pria yang superior.

Pernyataan ini sama sekali menyimpang dari kenyataan yang sesungguhnya. Pada tataran logika normal, kelemahan perempuan disebabkan karena perempuan dipaksa dan terpaksa memainkan peran yang pasif dan non-agresif. Fenomena ini didukung oleh kondisi dan hasrat psikologis perempuan. Dari dimensi psikologis, perempuan termasuk manusia lembut dan keibuan, yang secara personal lebih pada instingtif dan tidak cendrung pada kekerasan. Pada asumsi kultural, perempuan diajarkan untuk tidak terlalu agresif dan mengambil posisi subordinat dalam masyarakat.

Perkembangan peradaban berlanjut. Namun, di era berikutnya pun tidak seketika menempatkan perempuan ke tempat semestinya. Pendiskreditan posisi perempuan pada middle era tercermin dari ungkapan Plato yang intinya menggariskan bahwasanya perempuan tercipta karena degenerasi manusia. Statement Plato, secara tidak langsung menempatkan perempuan sebagai kaum kelas dua setelah pria, tanpa menggariskan adanya sebuah gender dalam hal apapun. Konsep yang sama dengan substansi yang juga tak beda diungkapkan Aristoteles yang memandang perempuan sebagai manusia yang tak sempurna dan hanya prialah manusia yang paripurna. Ini berarti Aristoteles menempatkan keberadaan perempuan yang identik dengan kelemahan dan kebodohan.

Dalam perspektif teologi, penciptaan perempuan pertama dari sebuah tulang rusuk pria. Dengan landasan perspektif teologi tersebut, jika kita berbicara kesempurnaan dalam konsep kemanusiaan maka secara logis prialah yang pantas berada dalam tataran tidak sempurna, kita sebut tidak sempurna karena wanita diciptakan dari tulang rusuk pria. Ini berarti ada elemen dalam diri pria yang tidak ada dan hilang, yang membuat ia menjadi tidak sempurna. Kesempurnaan itu hanya akan di miliki ketika pria sudah mendapatkan “tulang rusuk”nya kembali.

Disisi lain perempuan juga tertuduh sebagai kaum kelas dua dalam jalur intelektual. Meski sesungguhnya siapapun tak dapat pungkiri bahwasanya, sejak masa sebelumnya perempuan memberikan kontribusi yang tak minim dalam khazanah intelektual. Banyak pihak juga mengakui bahwa karakter, talenta dan kekuatan perempuan cendrung lebih superior dibandingkan pria. Namun, kelebihan-kelebihan tersebut secara tidak adil telah ditundukkan. Penundukkan talenta dan potensi perempuan ini menghasilkan ketiadaan entitas, yakni ketidakmampuan untuk mewujudkan karakter ilmiahnya.

Keagungan, menjadi satu-satunya kata indah untuk perempuan dalam perkembangan peradaban selanjutnya. Dengan perlakuan yang sedikit lebih manusiawi, namun tetap pada posisi termarginalkan, perempuan dicekoki dengan kalimat agung bahwasanya dia memiliki kodrat yang sangat agung karena bisa melahirkan.

Berdasarkan fakta-fakta pemarginalan hak perempuan, dapat dikatakan bahwasannya perempuan telah menanggung kondisi inferioritas selama berabad-abad. Menjadi tidak heran jika kemudian gerakan feminis banyak muncul dan nyaris menjamur. Dalam berbagai payung mereka bernaung bersama untuk tujuan yang juga tak beda, dari gerakan feminis Amazon, Anarki, Liberal, Markis/Sosialis ataupun Materialis. Dalam payung yang berbeda mereka memperjuangkan kesetaraan dengan subjek sama: perempuan. Ini didasari oleh satu keyakinan bahwa perempuan telah ditindas dan tidak diuntungkan jika dibandingkan dengan pria, dan penindasan ini tidak adil dan ilegal.

Meski terdapat banyak variasi teori dan gerakan dalam feminisme yang menampilkan keberagaman ide, nilai dan perspektif. Namun, secara umum, gerakan feminis tidak dapat dipandang sebagai sebuah gerakan pembebasan, tapi cendrung merupakan sebuah perjuangan guna mendapatkan perlindungan hak-hak perempuan dalam masyarakat. Dalam perkembangannya gerakan seperti ini telah mengalami diversifikasi berkaitan dengan perbedaan-perbedaan konteks budaya dan ideologi.

Lantas, sesempurna apakah mahluk yang namanya pria? Dalam banyak hal sesungguhnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara pria dan perempuan. Melihat kerangka teologi Islam bahwasanya semua manusia setara dan tidak ada perbedaan yang dibuat antara pria dan perempuan. Secara fitrah yang membuat mereka berbeda hanya kemampuan mendaki rangkaian gradasi kesempurnaan spiritual, yang berpuncak pada kedekatan maksimum dengan Sang Khalik. Proses ini ditentukan oleh kesalehan, yang tentu saja dimiliki oleh semua manusia, terlepas dia pria maupun perempuan dalam kapasitas yang sama.

Dalam konteks hubungan pria dan wanita, kaitannya dengan status, peran dan interelasi keduanya sederajat. Pemikiran ini telah menjadi sebuah topik kontroversial sepanjang sejarah. Banyak ide yang kemudian muncul, beberapa diantaranya malah mengklaim memiliki landasan yang berasal dari wahyu dan yang lain mengklaim berlandaskan atas struktur sosial tradisional. Sedikit diantaranya, bagaimanapun, telah secara memuaskan membuktikan mampu menyelesaikan beberapa persoalan status gender.

Pertama-tama, perempuan termarginalkan dari beberapa hak sipilnya, dan kemudian diberikan (kepada perempuan) hak-hak ekstra sebagai “kompensasi”. Upaya ini tidak dapat menyelesaikan masalah gender secara maksimal karena sebagian besar perempuan juga merasa inferior di hadapan pria. Sementara di sisi lain pria jarang menjadi orang yang mampu menerima perempuan sebagai rekan yang absah dalam kebidupan sosial, ekonomi maupun politik.

Dalam konteks pengertian gender sebagai hasil dari banyaknya gerakan feminis kontemporer, kita harusnya melontarkan pertanyaan secara pribadi, apakah merupakan sebuah dialektika alamiah bahwa perempuan harus menutup dirinya sebagaimana jika berada dalam konfrontasi melawan pria agar hak-haknya terlindungi? Atau kah problem-problem hubungan pria-perempuan merupakan hasil-hasil faktor-faktor historis dan psikologis yang saling berkaitan? Untuk menjawab tanya sederhana ini haruslah disertai sebuah upaya yang dinamis untuk  menyingkap pandangan publik tentang status dan komplementaris dua gender.

Pada kesempatan ini penulis ingin mengajak pembaca yang terhormat untuk menyimak dan merenungi bersama pendapat penulis cerpen asal Ceko, Milan Kundera yang berusaha memperkenalkan solusi atas problem gender dewasa ini. Milan dengan empaty penuh menulis bahwa  “Perempuan adalah manusia masa depan. Itu artinya bahwa dunia yang tadinya terbentuk dalam citra pria kini akan ditransformasikan pada citra perempuan. Semakin bersifat teknis dan mekanis, dingin dan metalis, sesuatu semakin membutuhkan jenis kehangatan yang hanya dapat diberikan oleh perempuan. Jika ingin menyelamatkan dunia, kita harus beradaptasi dengan perempuan, biarkan diri kita dipenetrasi oleh keabadian feminism”.

Terakhir, penulis menghimbau pada seluruh lapisan pria, untuk memposisikan perempuan di tempat yang seharusnya. Realitas kehidupan menempatkan pria berbeda dengan perempuan, namun alangkah indahnya jika perbedaan itu bisa disandingkan dan bergandengan setiap saat.****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *